Art & Design

Mengolah Kisah Personal Menjadi Sebuah Perhiasan Yang Bisa Diwariskan

Oleh: Ian Hugen 

Foto: Atelier Pedra

 

Suatu sore yang ditemani percikan gerimis, dari sudut Grand Wijaya Centre, kami berkesempatan untuk mengunjungi sekaligus bertemu dengan Rara, Creative Director Atelier Pedra. Emiria Larasati atau yang lebih akrab dipanggil Rara menyambut kami dengan begitu hangat. Studio Pedra yang dihiasi berbagai pernak-pernik antik dan didominasi oleh wangi citrus menjadi tempat perjumpaan kita. 

 

Sebagai sebuah accessories line yang mengandung filosofi khusus dibalik setiap karyanya, Rara yang merupakan lulusan desain produk Institut Teknologi Bandung mengaku memang sudah terpikat pada aksesoris sejak dirinya masih duduk di bangku kuliah. Dia yang dulunya tergolong cukup konsumtif dalam membeli berbagai perhiasan, suatu hari disadarkan oleh celetukan sang Ayah, “Ngapain capek-capek kuliah desain produk tapi tetap belanja? Coba bikin sendiri aja.” Bagaikan mendapatkan pelangi di antara kedua kupingnya, celetukan itu adalah langkah awal Atelier Pedra muncul. Sejak semester awal kuliah, Rara yang mengambil jurusan desain produk akhirnya memutuskan untuk fokus mempelajari perhiasan. Siapa yang menyangka, Atelier Pedra sudah lahir di tahun 2012, dua tahun sebelum Rara wisuda.

 

Rara mengaku sangat gemar menjelajahi bagian-bagian dunia karena dapat membawa pulang beragam cerita, kultur dan ide yang nantinya bisa dituangkan dalam Atelier Pedra. Sebagai contoh, ketika SMA, Rara berlibur ke Brazil dan saat itu juga dia jatuh cinta pada budaya Amerika Latin. Akhirnya, tercetuslah nama Atelier Pedra dimana kata ‘Pedra’ sendiri berarti ‘batu’ dalam Bahasa Portugis.

 

Kecintaan Rara pada gemstone akhirnya mengantarnya ke New York untuk mengambil course singkat GIA (Gemological Institute of America). Dengan latar belakang pendidikan tersebut, Rara kembali ke Jakarta pada tahun 2017 dan semakin yakin akan Atelier Pedra yang ia tekuni. 

 

Sebagai seorang pengrajin perhiasan, menurut Rara sendiri tidak ada kombinasi batu dan bentuk yang sempurna. Tapi, selama itu bersifat personal dan dapat menggambarkan pemiliknya, itulah karya yang baik. Oleh karena itu, Atelier Pedra memiliki moto yaitu ‘made your legacy’ dimana Rara berharap setiap perhiasan yang ia hasilkan bisa menjadi sebuah cerita yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi. 

 

Atelier Pedra sendiri memiliki dua jenis produk yaitu koleksi dan customized jewelry. Koleksi terakhir Pedra berjudul All Eyes On You lahir sepulang Rara dari New York. Dengan harapan setiap perhiasan dalam koleksi dapat memikat dan mencuri setiap pasang mata yang melihatnya. Rara mau koleksi itu bisa menyuarakan karakter Pedra dengan lantang, yaitu: bold, an artwork, luxury good, classic, elegant, but yet modern and timeless. Benar-benar sebuah koleksi comeback yang menarik.

 

Rara juga mengaku lebih senang mengerjakan perhiasan yang dibuat khusus untuk perorangan. Bukan berarti dia tidak suka dengan karyanya di koleksi-koleksi yang ada, namun menurut Rara proses pengerjaan customized jewelry jauh lebih seru, menarik, dan menantang. Setiap client biasanya Rara undang untuk berjumpa di studio terlebih dahulu untuk di-interview. Pertanyaan yang akan ditanyakan pun cukup mendalam. Menurutnya, bukan hanya soal ukiran dan jenis batu apa yang sang client suka tapi juga tentang lagu apa yang mereka dengarkan dalam kegiatan sehari-hari, kota atau negara favorit mereka, cara berpakaian mereka, bahkan tidak jarang Rara mencoba menengok akun sosial media sang client untuk mempelajari dengan betul dan memahami bagaimana personality mereka. Proses ini biasanya memakan waktu sebulan dengan tujuan untuk menghasilkan karya yang nantinya betul-betul personal untuk sang pemilik.

 

Client yang biasa Rara terima bervariasi mulai dari penggunaan pribadi sampai dengan engagement, dan wedding ring. Wanita yang melihat pernikahan sebagai sebuah bentuk kolaborasi dan kerjasama ini menceritakan soal salah satu client yang paling berkesan untuknya, dimana seorang ibu muda harus kehilangan sang bayi saat masih dalam kandungan. Untuk mengenang kepergian sang buah hati, client Rara memesan sebuah kalung berukiran nama sang anak disertai birthstone sang bayi. Lewat cerita ini, dapat disimpulkan tak hanya seorang pengrajin bebatuan, Rara memiliki tanggung jawab besar untuk bisa mengolah sebuah cerita menjadi wujud yang utuh dan bisa dikenakan.

 

Saat ditanyakan soal langkah Pedra kedepan, Rara berharap semoga semakin banyak orang yang bisa menghargai perhiasan sebagai sesuatu yang penting dan lebih dari sebuah pemanis saja. Ia juga berharap untuk segera menggarap showcase di Paris, yang ia anggap sebagai rumah kedua.