Art & Design

Menyelami Ragam Seni Kontemporer Di RUCI 2021 Pop Up Show

Oleh: Adelia Dinda Sani

Setelah hampir setahun terpukul oleh pandemi, kini RUCI kembali mengadakan pameran luring bertajuk RUCI 2021 Pop Up Show pada bulan Maret hingga April 2021. Berbeda dengan banyak pameran sebelumnya yang digelar di RUCI Art Space, kali ini Pop Up Show diadakan di Cipete37, tepatnya di Titik Temu Cipete, Jakarta Selatan. Pameran mini yang diadakan selama satu bulan penuh ini terbagi menjadi tiga batch yang menyajikan banyak karya dari beragam seniman lokal, antara lain Natisa Jones, Ruth Marbun, Radhinal Indra, Eddie Hara, dan lain-lain.

Menghadirkan banyak wajah familiar, dalam Pop Up Show ini RUCI menyediakan wadah bagi seniman lokal kontemporer untuk membangun wacana berkeseniannya kepada publik. Pada batch pertama yang berlangsung dari 4 Maret hingga 17 Maret, Ruth Marbun menghadirkan koleksi lukisannya berjudul Lumrah yang meleburkan batas antara seni dengan keseharian memasak di rumah semasa pandemi. Dengan mengkombinasikan charcoal dan beragam bumbu dapur, Ruth Marbun menyelami proses kreatifnya melalui representasi gambaran ketidaksempurnaan dari bahan yang ia temui sehari-hari. 

Masih dalam batch pertama, Kanoko Takaya yang identik dengan antusiasmenya terhadap budaya Indonesia kini menghadirkan karya multimedia yang bersinggungan dengan kain, kayu, serta kulit sintetis. Melalui eksplorasi dan eksperimentasi material, Kanoko merayakan identitas manusia yang berbalut ragam gender, etnis, dan budaya. 

Berlanjut pada batch kedua yang digelar dari 18 Maret hingga 4 April, Radhinal Indra konsisten menyajikan eksplorasi kegemaran pribadinya terhadap astronomi dan luar angkasa. Dengan menghadirkan medium kanvas serta metal, Radhinal memberikan sentuhan khas akan relasi dari humanisme dan benda-benda langit. 

Selain Radhinal Indra, Natisa Jones juga turut memamerkan lukisannya yang bergelut seputar problema identitas. Melalui goresan abstrak yang dipenuhi ornamen berwarna-warni, Natisa mengekspresikan kalut emosi manusia secara telanjang mata. 

Sementara itu, Eddie Hara mempertunjukkan visualisasi ilustrasinya yang terdiri dari beragam bentuk hewan dan monster fiksi. Melalui karyanya yang child-like, Eddie Hara memberikan sisi humor yang berpadu dengan kejanggalan dan rasa ngeri dari tiap doodle yang digoreskan di atas amplop dan kartu pos Eropa. 

Tidak berhenti di situ, Cinanti Astria Johansyah, atau yang biasa disapa Keni juga turut berpartisipasi dalam pameran ini. Karyanya sendiri banyak berbicara seputar imajinasi akan binatang—seperti burung, tikus, ular, hingga kuda. Dengan sentuhan akrilik yang identik akan warna bumi, Keni menampilkan nuansa dreamy yang imajinatif dan bebas. 

Tak ketinggalan, beragam karya dari Satria Nugraha dan Agugn juga akan turut terpampang pada batch ketiga yang berlangsung dari 2 hingga 30 April nanti. Nantikan juga RUCI Shop yang mewadahi kolaborasi antara berbagai brand dengan seniman lokal lewat berbagai merchandise.