Art

Virtual Museum Indonesia

Saat banyak museum di berbagai belahan dunia sedang berlomba-lomba membuka pintunya secara virtual di tengah pandemi yang melanda, ruang-ruang eksibisi di Indonesia tak tinggal diam. Memanfaatkan perkembangan teknologi, karya-karya visual yang selama ini tersimpan rapi di museum dan galeri kini dapat dinikmati dari layar ponsel dan komputer di mana pun kita berada. Simak sejumlah eksibisi virtual dari galeri dan museum Indonesia pilihan redaksi Insitu.

 

Biennale Jogja

Sejak kehadirannya pada 1988, Biennale Jogja menjadi wadah bagi seniman lokal maupun internasional untuk berkarya, belajar, dan berdiskusi, terutama terkait karya dari bidang seni visual. Bekerja sama dengan Google Arts & Culture, pagelaran seni prestisius yang berlangsung dua tahun sekali ini berhasil dibawa ke ranah virtual. Dalam laman resminya, Biennale Jogja menampilkan 3 eksibisi dari tahun 2011 hingga 2015 dengan tema-tema yang berbeda: Biennale Jogja XI yang bertajuk Indonesia-India, Biennale Jogja XII yang mengangkat hubungan Indonesia dan negara-negara Arab, hingga Biennale Jogja XIII yang bertema Indonesia-Nigeria, bertepatan dengan hari jadi ke-60 Konferensi Asia Afrika.

 

Ciputra Artpreneur

Semasa hidupnya, insinyur dan pebisnis  Dr. Ir. Ciputra terkenal sebagai kolektor karya seni. Ia juga bersahabat dekat dengan perupa Hendra Gunawan, yang dipercaya melukis sejumlah potret anggota keluarganya. Museum dalam kompleks Ciputra Artpreneur yang didirikan Ciputra didedikasikan pada karya-karya Hendra, memamerkan lebih dari 30 lukisan karyanya yang berasal dari koleksi pribadi Ciputra. Dalam laman Google Arts & Culture, terdapat 90 karya Hendra Gunawan yang dapat dilihat secara virtual, lengkap dengan deskripsi yang tertera dalam label tiap-tiap lukisan.

 

‘Trajectory’: A decade of Lawangwangi

Pandemi COVID-19 yang memaksa tempat-tempat umum untuk tutup sementara waktu tak menghalangi ruang kreatif Lawangwangi yang berlokasi di Bandung untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-10. Pameran bertajuk “‘Trajectory’: A decade of Lawangwangi” yang direncanakan akan digelar akhir Maret lalu berpindah haluan menjadi sebuah pameran virtual dengan yang dapat diakses melalui website ArtSociates. Mengusung 10 karya dari 10 seniman lintas generasi, “‘Trajectory’: A decade of Lawangwangi” menunjukkan bergesernya bahasa visual yang digunakan dalam kancah seni rupa selama beberapa dekade terakhir: fokus pada masalah sosial dan politik yang diangkat oleh seniman Tisna Sanjaja dan Mella Jaarsma di pameran ini mulai berkembang menjadi topik-topik yang lebih beragam di awal tahun 2000-an, seperti yang dikemukakan oleh Bandu Darmawan dalam karyanya yang membahas perkembangan teknologi dalam seni rupa.

 

Pameran #KilasBalik Selasar Sunaryo

Masih dari Bandung, ruang pamer Selasar Sunaryo juga memboyong koleksinya ke ranah virtual melalui pameran #KilasBalik yang dapat diakses melalui akun Instagram @selasarsunaryo. Menampilkan karya-karya yang pernah dipamerkan di Selasar Sunaryo selama 10 tahun terakhir, #KilasBalik mengajak kita untuk memaknai kembali kreasi yang pernah kita lihat sebelumnya dengan konteks sosial-politik Indonesia dan dunia yang berbeda saat ini. Tak hanya itu, buku dan katalog koleksi Pustaka Sunaryo juga turut dipamerkan dalam eksibisi ini untuk memperkaya sudut pandang dari karya-karya yang ditampilkan.