Art

Virtual Museum Tour

Berkelana menyusuri lorong-lorong museum untuk mengamati satu demi satu karya yang dipamerkan bisa jadi adalah salah satu aktivitas yang dirindukan di tengah himbauan pembatasan sosial. Untungnya, perkembangan teknologi mendorong museum-museum terkemuka untuk membuka pintu virtualnya, sehingga siapapun dapat menikmati buah karya seniman-seniman dunia di mana saja tanpa perlu meninggalkan rumah.

 

Museum Louvre

Sejak Louvre didirikan pada 1793, museum ini tak hanya menjadi ikon kota Paris, tetapi juga berkembang menjadi salah satu museum terbesar di dunia. Karya-karya Michelangelo, berbagai artefak Mesir kuno, dan koleksi-koleksi lain yang berharga dapat diakses melalui online tour di laman resmi Museum Louvre, di mana pengunjung dapat menikmati pemandangan 360 derajat dan penjelasan dari tiap objek yang dipamerkan dalam ruangan-ruangan eksibisinya.

 

British Museum

Tak perlu jauh-jauh ke London untuk mengunjungi museum kebanggaan Britania Raya ini. Bekerja sama dengan Google, British Museum menciptakan “mesin waktu” berwujud laman daring interaktif yang mengajak pengunjung untuk menjelajahi koleksi artefak bersejarah yang dipamerkan. Koleksi British Museum dikurasi berdasarkan tahun pembuatan, asal artefak, dan tema karya. Salah satu di antaranya yang tak dapat dilewatkan adalah prasasti batu Rosetta yang ditulis dalam 3 bahasa.

 

The Metropolitan Museum of Art (The Met)

Sebagai museum yang menaungi lebih dari 2 juta karya seni, pameran-pameran The Met telah menjadi rujukan para seniman, akademisi, hingga publik penikmat seni. Tak hanya berhenti dengan membangun 3 museum di New York, The Met juga menjaring pengunjung dari seluruh dunia melalui koleksi online dan tur virtual yang dapat diakses dari laman resminya. Selain memamerkan karya-karya seniman ternama dari berbagai bidang, The Met juga menyediakan panduan audio gratis dan kumpulan katalog pameran yang dapat dibeli online.

 

Rijksmuseum

Berlokasi di Amsterdam, Belanda, Rijksmuseum menjadi rumah bagi karya-karya seniman era Dutch Golden Age, termasuk Vermeer dan Rembrandt. Google Arts & Culture memberikan akses street view untuk menyusuri lorong-lorong Rijksmuseum, membuat pengunjungnya seakan berada langsung di Amsterdam untuk mengamati karya-karya yang dipamerkan. Jangan lupa untuk klik deskripsi yang tersedia di bawah setiap karya untuk membaca lebih jauh.

 

Museum MACAN

Meskipun saat ini Museum MACAN sedang tutup untuk sementara waktu, bukan berarti kegiatan berkesenian juga ikut berhenti. Museum MACAN telah menyiapkan sebuah platform online yang memberikan akses bagi komunitas global untuk berinteraksi dengan seni dari rumah. Salah satu program andalannya adalah pameran virtual ‘Melati Suryodarmo: Why Let the Chicken Run?’ dan ‘Julian Rosefeldt: Manifesto’ yang dapat dinikmati melalui kanal IGTV dan YouTube Museum MACAN. Seri video ini akan ditemani juga oleh wawancara dengan perupa, juga pembahasan karya pilihan tim museum. Tak lupa, souvenir khas Museum MACAN juga dapat dibeli secara online di toko resmi yang tersedia.