Culture

Dari Ilmu Hitam Sampai Babi Ngepet: Mengapa Orang Indonesia Terobsesi Dengan Mistis?

Oleh: Adelia Dinda Sani

Netizen Indonesia digegerkan dengan penemuan babi ngepet di Depok. Menurut pengakuan saksi mata, babi tersebut ditangkap karena dianggap sebagai jelmaan manusia yang telah mencuri uang penduduk sekitar. Babi yang diyakini sebagai sosok jadi-jadian itu pun akhirnya disembelih secara tragis. Setelah diselidiki, ternyata hal ini adalah hoaks atau akal-akalan yang sengaja disebarkan kelompok tertentu demi memviralkan fenomena ini. 

Klaim atas penemuan babi ngepet di Indonesia sendiri sudah terjadi berulang kali. Dilansir dari Asumsi.co, bahkan selama lima tahun terakhir ada dua kejadian serupa, yakni pada tahun 2008 dan 2020 silam. Padahal, fenomena babi ngepet sendiri tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Menurut Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Profesor Gono Semiadi, secara keilmuan babi ngepet memang tidak ada. 

Meski begitu, mitos macam ini tampaknya sudah sangat melekat dalam budaya masyarakat Indonesia. Tak hanya fenomena babi ngepet, namun berbagai suguhan mistis seperti cerita hantu, Nyi Roro Kidul, hingga tayangan azab akhirat pun turut menjadi narasi yang dikonsumsi hampir setiap hari. Menariknya, bahkan di tengah arus teknologi dan informasi saat ini, fenomena paranormal tak pernah kalah pamor dan hampir selalu menjadi tren utama perbincangan masyarakat. Sebut saja KKN Desa Penari yang viral dibicarakan di Twitter pada tahun 2019 lalu, ataupun sederet film horor garapan Joko Anwar yang selalu menjadi favorit penonton. Tampaknya, lanskap digital sendiri bukannya meningkatkan rasionalitas masyarakat, namun justru mendukung pertumbuhan cerita mistis. 

Hal ini tentunya menimbulkan satu pertanyaan baru: mengapa mistisisme dan dunia gaib masih amat digemari masyarakat Indonesia?

Kultur dan Religi yang Telah Mengakar Kuat

Legenda serta narasi mistisisme sejatinya tidak pernah terlepas dari nilai serta norma agama— khususnya Islam sebagai agama mayoritas—yang begitu mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Diskursus akan moralitas, narasi dunia akhirat, hingga depiksi jin dan setan merupakan hal yang dekat dengan masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari – hari. Secara tidak terelakkan, hal ini pula yang membentuk kultur dan selera masyarakat dalam preferensi tayangan media atau produk budaya yang dikonsumsi secara masif. 

Lebih dari itu, tayangan sensasional di Indonesia jauh lebih digandrungi penonton apabila bersinggungan dengan unsur mistis dan religi. Nilai agama memang telah menjadi fondasi dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, agenda moralitas juga menjadi suatu standar dalam menentukan yang baik dan buruk dalam setiap aksi yang dilakukan masyarakat. Berbagai nilai agama sebagai kompas acuan telah memengaruhi narasi mistis non-realistis menjadi hal yang diminati masyarakat. Adanya kehadiran jin dan setan, dunia akhirat, serta pesan moral dari suatu cerita telah menjadi diskursus yang diperbincangkan dan diberitakan dari generasi ke generasi sejak jaman dahulu kala.

Rendahnya Tingkat Literasi Dapat Menimbulkan Hoaks Mistis

Mengutip dari Liputan6, pakar kebudayaan dan mitologi Jawa asal Universitas Indonesia (UI), Prapto Yuwono menjelaskan bahwa fenomena seperti babi ngepet, santet, dan lainnya akan selalu muncul jika kondisi ekonomi, sosial dan politik mengalami kemunduran—terlebih bagi masyarakat yang berubah menjadi irasional karena tidak bisa menemukan penyelesaian masalah kehidupannya.

Melalui kepercayaan terhadap mistisisme, otak manusia sedang berproses untuk mencari jawaban ataupun makna dari berbagai peristiwa yang tidak bisa dipecahkan. Alhasil, kepercayaan ini pun dijadikan tameng atau justifikasi dari jawaban yang berusaha ia cari, seperti peristiwa kematian, konflik, bencana alam, musibah, dan lain-lain.

Selain itu, tingkat literasi masyarakat Indonesia yang masih rendah juga menjadi faktor pendorong digandrunginya tayangan – tayangan bertajuk bombastis ala yellow journalism atau koran ‘kuning’. Tayangan macam sinetron, reality show, ataupun berita yang membahas fenomena gaib tergolong ringan serta tidak mengharuskan penontonnya untuk berpikir. 

Terlebih, dengan derasnya arus informasi di ruang digital dan lemahnya pengawasan berita, hoaks ataupun berita palsu akan lebih mudah tersebar. Dengan adanya kesenjangan tingkat literasi digital, maka hoaks mistis—seperti fenomena babi ngepet—pun rentan dipercaya oleh banyak masyarakat Indonesia.