Culture

Generasi Muda Dalam Upaya ‘Berkain’

Oleh Sheila Bell

 

Didikan masa kecil akan budaya Indonesia masih melekat di hati bagi banyak orang. Secara tidak langsung, mengenakan kain batik pada selebrasi Hari Batik Nasional atau memakai kebaya pada kondangan adalah kode mode yang biasa dalam kehidupan modern saat ini. Namun, melihat dua contoh stereotip ini menyadari bahwa kebiasaan ini hanya sebagai hajatan formal yang sebenarnya bisa menjadi normalitas sehari-hari. Nampaknya, upaya melestarikan budaya masih sangat minim dibandingkan kehidupan orang di pedesaan yang masih kukuh dengan budaya ‘berkain’. Padahal menggunakan kain atau kebaya sudah menjadi pakaian sehari-hari bagi penduduk desa. 

Akan tetapi, selama masa pandemi ini, Tim Insitu memperhatikan sebuah tren fashion dan gerakan dalam generasi anak muda yaitu untuk ‘berkain’ sehari-hari. Konsep ‘berkain’ adalah menggunakan kain ciri khas Indonesia sebagai fashion staple di era masa kini. Tidak hanya untuk acara formal saja, pergi nongkrong bareng teman-teman dengan mix and match gaya masa kini pun sudah menjadi komoditas pakaian sehari-hari. Menciptakan gaya feminim melalui lilitan kain seperti rok atau dress kasual dengan kemeja atau tank top dan gaya maskulin yang melilitkan kain seperti gaya kamben dari Bali. 

Berawal dari video TikTok yang diunggah oleh Arawinda Kirana dimana kreasi kontennya mendorong audiens untuk menggunakan kain-kain khas Indonesia sehari-hari dengan tagar #berkainbersama dan #berbatikberasama, tindakan untuk ‘berkain’ bisa mengangkat dan merangkul budaya lama untuk hadir kembali di era modern ini. Seringkali, Arawinda memberikan tutorial cara mengikat kain dengan cara modis ataupun menari lagu TikTok terbaru dengan warisan budaya yang sangat mengakar. Memberikan sambutan hangat kepada ‘akar tradisionalisme’ untuk kembali berpijar dalam lingkungan modern. 

Sementara itu, demi tetap memperjuangkan warisan Indonesia dengan ‘berkain’, Swara Gembira (@swaragembira) juga memberikan tutorial dengan menggunakan aneka kain Nusantara. Biasa disebut ‘wastra’, kain pun bisa dipadukan dengan kaos oversized dan sneakers untuk mendapatkan gaya streetwear ala Indonesia. Dalam kampanye ini, Swara Gembira pun mewujudkan akun Remaja Nusantara (@remajanusantara), kumpulan foto kawula muda yang difitur dengan gaya keren menggunakan wastra ataupun kebaya. 

Selain digital natives dan media lokal berkreasi untuk melestarikan warisan nenek moyang, label fashion lokal pun melakukannya dengan merombak bahan kain dengan jahitan masa kini. Tim Insitu mengamati beberapa brand fashion baru seperti Handcrafted by Danielle Tracie (@handcraftedbytrc) yang menggunakan siluet kemben dan bahan kain batik warna-warni, Senja Sore (@senjaa_sore) dimana mengabadikan pakaian batik dengan gaya casual, serta bahan tenunan dari Srikandi Wear (@srikandiwear) dengan gaya kontemporer dan elegan. 

Mengamati gerakan ini di kalangan anak muda dan era modern sekarang memberikan harapan pada budaya Indonesia untuk masih bisa melestarikan peninggalan adat istiadat. Akses informasi sudah semakin mudah dan cepat dalam era digital sekarang, maka kreativitas dalam berpakaian dalam ‘berkain’ semakin bisa dikembang dan tetap dipertahankan. Akan lebih keren ketika mengenali sejarah dari satu per satu motif dan corak warna dalam sebuah kain dari setiap daerah. Bisa dengan songket emas dari Sumatera, kain klasik batik dari Jawa, tenunan unik dari NTT, maupun Kalimantan. Jadi, maukah kamu untuk mengikuti gerakan dalam ‘berkain’ di tahun baru ini?