Culture

Plagiarisme: Tingkat Kelas Paling Malas Dalam Berkarya

Oleh Sheila Bell

 

Masih ingat dengan fenomena wisata selfie di Bandung bernama Rabbit Town yang sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial atas tiruan karya-karya dari seniman ternama? Pada 20 April 2021, Rabbit Town telah dinyatakan melanggar hak cipta yang diputuskan oleh majelis hakim di PN Jakarta Pusat. 

 

Karya tiang-tiang lampu berjudul ‘Love Light’ sangat identik dengan karya oleh seniman Los Angeles bernama Chris Burden yang ditunjukkan di Los Angeles Museum of Art (LACMA). Pada akhirnya, karya jiplakan ini diminta untuk dibongkar dan didenda Rp 1 miliar. 

 

Kasus-kasus plagiat tidaklah asing di ranah industri kreatif. Beberapa bulan lalu, brand fashion Sejauh Mata Memandang sempat merasakan hal sama ketika produk busananya telah ditiru oleh brand lain yang dikatakan tidak memiliki afiliasi dengan brand lain. Saroong Atelier pun juga mengalami kejadian yang sama ketika brand fashion lain menjiplak siluet pakaiannya. 

 

Baik itu bidang pendidikan, seni atau fashion, melakukan aksi plagiarisme sudah sering terjadi di aspek manapun sehingga terlihat lumrah untuk mencuri dan meniru hasil karya orang. Alih-alih, membuat pernyataan bahwa ide karya dibaluti oleh kata ‘terinspirasi’ namun konotasi yang bisa samar atau kata ‘autentik’ yang jelas menjadi jiplakan karya. Lantas, dengan fenomena ini, mengapa plagiarisme terjadi? 

 

Menikmati hasil tanpa berproses

Menurut Plagiarism Today, melihat hasil dari pekerjaan seorang individu memiliki dampak yang lebih bermakna ketimbang menikmati proses sehingga langkah tersebut dihiraukan. Beberapa orang merasa bahwa mengoptimalkan dalam proses tidak penting sehingga lebih memikirkan output yang akan dikeluarkan. Sementara, sebagian orang yang merasa menyita waktu dan sumber daya sehingga menganggap tidak perlu melewati proses dan mendapatkan sebuah hasil yang malas. 

 

Akses teknologi yang sangat mudah

Dalam sebuah jurnal mengenai plagiarisme, perkembangan teknologi dan media sosial semakin cepat bagi seseorang mencari inspirasi dalam karyanya. Sehingga, mendapatkan bahan-bahan untuk menjadi sumber kreativitas seseorang sangat mudah. Bisnis kreatif yang telah terekspos di media sosial semakin pesat yang membuahkan sebuah pemikiran untuk mengambil peluang untuk terjun dalam bandwagon tersebut. Alhasil, seorang individu tidak ingin merasa FOMO demi mendapatkan ‘cuan’ yang cepat dan mudah. Alhasil, untuk mengatakan ‘terinspirasi’ dan ‘jiplak’ pun sangat tipis. 

 

Saat ini, sulit untuk menemukan orisinalitas dari hasil karya orang sebab inspirasi bisa dapat dari banyak sumber. Meskipun kedua faktor tersebut menjadi beberapa alasan mengapa orang plagiarisme, namun tidak menjadi argumen untuk melakukan aksi menjiplak sebuah karya. Boleh untuk terinspirasi, namun tetap ingat untuk selalu memberi credit terhadap sumber kamu serta mencari banyak sumber kreativitas sebanyak mungkin agar bisa menemukan kesimpulan karyamu sendiri. Seperti apa yang dikatakan oleh Wilson Mizner, “If you steal from one author, it's plagiarism; if you steal from many it's research.”