Lifestyle

Apakah Ada Istilah ‘Ordinary People’?

By Sheilla Bell

 

Bagi orang melankolis, ada waktu dimana kesedihan akan datang tanpa alasan. Semacam renungan yang harus dilampiaskan untuk mengeluarkan semua emosi dan pikiran. Kali ini bukan tentang cinta dan malapetaka, melebih keterkaitan dalam menghadapi penderitaan traumatis dan kehilangan dalam keluarga. Film Ordinary People yang disutradarai oleh Robert Redford telah menjadi salah satu film yang terapeutik selama tahun 80-an dan masih bisa dinikmati sampai abad ini.

Film ini menggambarkan keluarga kelas menengah atas Amerika yang bernama The Jarrets dimana lifestyle yang menggambarkan mereka tinggal di rumah berlantai dua dengan mobil mewah yang bagus dan bermain golf di akhir pekan bersama rekan kerja mereka. Orang sederhana dengan kehidupan biasa pada kesan pertama. Namun, setelah kehilangan seorang saudara lelaki dan putra karena kecelakaan kapal yang tragis, ada perasaan bersalah, trauma dan beban yang dibawa oleh The Jarrets.

 

SPOILERS AHEAD

 

Pertama, Conrad Jarret (Timothy Hutton), seorang remaja SMA yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa karena melakukan upaya untuk bunuh diri, mengalami masalah dengan alienasi sosial dari teman-teman sekolahnya, menjalani sesi terapi yang tidak nyaman dengan Dr. Berger (Judd Hursch), dan bertemu dengan seorang ibu yang berdikari, dingin, dan jauh dari kedekatan seorang ibu dan anak, Beth Jarret (Mary Tyler Moore). Sementara itu, kita bisa melihat Calvin Jarret (Donald Sutherland) mencoba untuk menjaga erat tali keluarga dengan memahami apa yang putranya sedang dilalui dan mempersudikan istri tercinta untuk berhenti mengabaikan perasaan hal-hal yang telah dibiarkan tidak terkatakan.

Pada tahun 1980,  Ordinary People membawa pulang empat Oscar termasuk Best Picture; yang telah mengalahkan Raging Bull yang disutradarai oleh Martin Scorsese dengan aktor Robert De Niro yang bermain sebagai peran utama petinju. Memiliki debut sebagai sutradara dan Oscar pertamanya untuk Sutradara Terbaik, film yang disutradarai oleh Robert Redford ini merupakan adaptasi dari novel Judith Guest 1976, berbagi judul film dan buku yang sama. Dalam sebuah artikel di New York Times di tahun 1980, Redford menyebutkan bahwa dia terpikat dengan bagaimana kisah Ordinary People dapat diperluas menuju kedalaman emosi seseorang, sesederhana berurusan dengan perasaan kita. “What we pretend to be, versus what we are", kata direktur pemenang Oscar di artikel New York Times.

Kami melihat Moore bermain sebagai sosok yang berdikari dan secara emotionally detached. Namun, dia telah menjadi salah satu karakter yang paling rapuh. Sementara itu, karakter Hutton dan Hirsch menunjukkan chemistry yang kuat dari seorang psikolog yang tumpul ingin membantu remaja yang bermasalah berurusan dengan emosi yang tertekan. Oleh karena itu, para aktor ini pantas mendapatkan piala Oscar. Hutton dan Hirsch mendapatkan Aktor Pendukung Terbaik dan Moore meraikan Aktris Terbaik, yang akhirnya menjadi lompatan karirnya setelah film ini.

 

Mengenal Kesehatan Mental dari Film Ordinary People

 

Selama 1980-an, penggambaran televisi dan film tentang kesehatan mental memperlihatkan dan menstigma kekerasan, agresi, dan bahaya pada individu yang berurusan dengan penyakit mental. Sebuah penelitian telah dilakukan oleh Otto F. Wahl mengenai ‘Mass Media Images of Mental Illness’ dimana sebagian besar media massa menggambarkan dan mempertimbangkan penyakit mental dimana memiliki 'citra buruk' dan selalu disalah artikan menurut para ahli. Maka dari situ, kita melihat Beth Jarret tidak setuju dengan Calvin yang mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa putranya sedang menjalani bantuan terapi kepada psikiater karena dia yakin itu bukan sesuatu yang bisa diceritakan orang-orang sekitar. Nilai-nilai batinnya masih dinilai memalukan bagi keluarga karena itu tidak 'normal'.

Secara bertahap dan seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai menyadari gagasan 'it’s okay not to be okay'. Media massa telah mempromosikan kesehatan mental sama seriusnya dengan menjaga kesehatan fisik kita sendiri. Bahkan tidak hanya pada kasus kesehatan mental yang cukup parah, bahkan pada kasus depresi ringan dan kecemasan membutuhkan banyak TLC; tender love and care. Namun, ini hanyalah step awal dari melanggar tabu dan stigma di masyarakat.

Meskipun, kita mungkin melihat banyak orang berbicara dan membuka tentang kesehatan mental terutama di era digital ini, masih perlu usaha dan kemajuan untuk menerima kesehatan mental sebagai masalah berat. Misalnya, menurut artikel NBC News, Kryss Shane, seorang aktivis dan penulis yang diterbitkan, menyatakan bahwa lembaga kesehatan mental harus lebih mudah diakses, terjangkau, dan terbuka untuk semua kelompok sosial masyarakat tanpa diskriminasi. Selain itu, dia menjelaskan bahwa mencari bantuan ke lembaga kesehatan mental bukan hanya tentang menyelesaikan solusi untuk komplikasi, tetapi harus menjadi cara untuk memperbaiki keadaan kehidupan juga.

Film pemenang penghargaan ini telah menjadi salah satu yang paling berpengaruh dan berdampak bagi sebagian orang. Tidak hanya pada masalah kesehatan mental, tetapi film ini mengajarkan kita tentang bagaimana lebih baik untuk memaafkan orang-orang yang telah melukai kita secara salah. Karena sebagian orang, hanya menunjukkan cinta dengan cara yang berbeda. Mengenai apa yang dikatakan Conrad dalam sesi terapinya dengan Dr. Berger, dia menemukan momen refleksi saat dia berkata, 'who it is who can’t forgive who'.