Lifestyle

If Anything Happens, I Love You: Apa Yang Dilakukan Jika Tidak Bertemu Untuk Selamanya?

By Sheila Bell

 

Kehilangan seseorang yang pergi untuk selamanya bukanlah proses yang mudah. Ketika dihadapi rasa sakit dalam duka akhirnya menyadari bahwa kamu tak dapat mendengar tawa manis mereka yang penuh riang atau merasakan pelukan hangatnya yang memberikan rasa tenteram. Bahkan sebelum semua ini, dalam benak pikiran pun terlintas bahwa kamu bisa bertemu kapan-kapan. Namun ternyata, hati mengatakan ‘seandainya aku bisa mengembalikan waktu’. Begitu perasaan mendatang, akhirnya menyadari kamu sudah tidak bisa mengucapkan ‘selamat tinggal’ untuk sejenak bahkan untuk selamanya. Film 'If Anything Happens, I Love You' menggambarkan nestapa dalam duka ketika ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi.

Ditulis dan disutradarai oleh Will McCormack dan Michael Govier, ‘If Anything Happens To You, I Love You’ adalah film animasi pendek di Netflix yang menceritakan kisah tentang bagaimana orang tua mengalami kesedihan atas tragedi kematian anaknya. Terinspirasi oleh peristiwa dalam kehidupan nyata, film ini bisa menempatkan situasi awan kelabu hanya dalam dua belas menit. Dari hening yang mengakibatkan jarak antara dua orang hingga gelombang kenangan yang melanda seperti badai. Terbitlah perasaan bagaimana kehadiran mereka membawa kembali banyak renungan bahagia melalui lagu-lagu favorit yang sering mereka dengar, kaos biru yang sering dipakai, dan hal-hal yang bikin keberadaan mereka tetap hidup senantiasa.

Tragedi ini tidak berdialog dan digambarkan dalam sketsa hitam-putih yang mewarnai penderitaan perasaan sang ibu dan ayah. Film ini dimulai dengan kedua pasangan suami istri duduk berhadapan sambil menyantap makan malam dalam diam. Secara bertahap menunjukkan banyak flashback tentang sang putri. Hanya dalam dua belas menit, penonton bisa berempati dan menyaksikan rasa sakit yang harus dialami oleh orang tua ketika anak satu-satunya menemui ajalnya. Tidak diragukan lagi ketika film pendek ini bikin kita berlinang air mata setelah empat menit awal dan menangis dalam menit terakhir di mana sang putri mengirimkan chat ‘If anything happens, I love you'.

Selain itu, animasi gerak tubuh dari setiap karakter membuat keseluruhan cerita semakin nyata ditambah dengan scoring film yang pelan-pelan bikin kita hanyut dalam kesedihan. Apalagi saat lagu 1950 oleh King Princess dimainkan seakan-akan kita kilas balik pada keberadaannya. Dikutip dari The Tab, film tragis ini terinspirasi oleh penembakan murid sekolah di Florida pada tahun 2018 di SMA Marjory Stoneman Douglas dimana orang tua mendapatkan pesan chat terakhir dari anak yang telah ditembak mati.

Setelah menonton film emosional ini, muncul frase dimana moments were taken for granted. Dimana setiap momen diberikan kesempatan untuk berbagi kasih sayang karena apapun benar-benar bisa terjadi. Setelah hilangnya nyawa dan jiwa, pasti ada banyak hal yang ingin diucapkan atau kata-kata penyesalan yang seandainya bisa ditarik kembali, berharap memiliki lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama. Jadi, dalam frase if anything could really happen, apa yang kamu lakukan jika tidak bisa bertemu lagi untuk selamanya?