Lifestyle

LIKO Sukhoy — Art & Design

Lahir dalam keluarga dengan latar belakang aviasi, Liko Sukhoy tak berminat untuk mengikuti jejak ayah dan kakaknya sebagai pilot. Sejak usia sekolah, ia telah tertarik pada dunia kreatif yang membawanya menjadi creative director untuk sejumlah brand dan musisi ternama Indonesia saat ini. Kali ini, redaksi Insitu berkesempatan untuk menemui Liko dan mengetahui lebih lanjut mengenai inspirasi, proses kreatif, dan filosofi karyanya dalam Studio Session.

Di usianya yang masih belia, Liko telah berpengalaman membuat beragam karya dalam berbagai medium. Ketertarikannya pada seni memang telah muncul sejak dini. Saat ia kecil, Liko suka menggambar. Salah satu gambar yang diingatnya adalah gambar situasi saat kakeknya sakit. “Sebenarnya gue ga jago gambar, tapi gue suka konsep mengekspresikan sesuatu melalui medium itu,” jelasnya. Minatnya terus berkembang hingga kelas 3 SMP, di mana Liko berkesempatan untuk mengikuti kompetisi desain yang diselenggarakan LaSalle Singapura. Karyanya terpilih untuk dipamerkan di sana. Pada saat itu, orang tua Liko belum sepenuhnya mendukung keputusan anaknya untuk fokus di bidang seni. “Gue bilang ke orang tua kalau gue mau liburan ke Singapura sendirian. Padahal gue pergi ke sana untuk melihat pameran karya gue,” ungkapnya.

Saat berusia 17 tahun, Liko berkesempatan untuk magang di Pon Your Tone. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan sejumlah mentor yang mendukungnya untuk berkarir di industri kreatif. Mempelajari desain secara formal di jurusan Visual Brand Design Universitas Multimedia Nusantara juga membuka mata Liko terhadap perspektif yang lebih luas di dunia desain. Pada waktu yang sama, ia juga mulai merambah dunia set design yang dimulai dari festival We The Fest 2017. Dalam karya-karya set design, Liko menggabungkan pendekatan seni rupa dengan commercial appeal untuk menciptakan set yang unik dan enak dipandang, tetapi juga tetap mengedepankan nilai-nilai brand yang ingin diangkat. Selain We The Fest, Liko juga berpengalaman membuat set design untuk video klip musisi-musisi Indonesia seperti Andien, Yura Yunita, Isyana, Elephant Kind, dan Sivia Azizah. Baginya, set design adalah adaptasi desain grafis. “Banyak hal-hal baru yang tadinya belum pernah gue alami yang ikut memperkaya proses berkarya gue, sampai akhirnya menjadi creative director seperti ini,” kata Liko.

Dalam mendeskripsikan karyanya, Liko menjelaskan bahwa ia sangat terinspirasi dari alam. “I'm a digital boy who longs for nature,” jelasnya.  Keinginan untuk mendekatkan diri dan menjalin koneksi dengan sekitar juga nampak dari proses kreatifnya, yang menitikberatkan pada hubungan interpersonal dengan klien-kliennya. “Gue ingin klien gue nyaman dengan gue, sehingga kita bisa menjadi tahu lebih dalam tentang satu sama lain.” Proses riset sebelum membuat karya juga sangat bergantung dengan pribadi klien yang ditemui. “Saat gue ketemu klien, gue sudah ada list of questions yang sudah disiapkan, mulai dari musik favorit, zodiak, parfum kesukaan, dan lain-lain. Gue berusaha menstimulasi 5 panca indera dari manusia dalam karya-karya gue. Dari situ, gue baru bisa elaborate apa yang klien gue mau.”

Inspirasi Liko juga datang dari orang-orang yang ia temui. Baginya, semua orang yang pernah berinteraksi dengannya memberi inspirasi yang berbeda-beda. Obrolan apapun mendorongnya untuk berkreasi dan membuat sesuatu. Karena itu, ia menjelaskan bahwa kalau tidak bekerja di industri kreatif, bukan tidak mungkin Liko akan berkarir di bidang marketing atau bahkan menjadi psikolog. “Gue suka banget ngobrol sama orang. When I build connections with others, it's really natural,” jelasnya.

Saat ini, Liko sedang mengerjakan beberapa proyek besar sekaligus: kolaborasi dengan sebuah brand handphone, beberapa brand fashion, makeup, restoran di Bali, hingga produk telekomunikasi seluler. Selain itu, Liko juga sedang mengerjakan creative direction untuk sebuah talent management di Jakarta. Seakan tanpa henti, Liko terus berkarya dan mengeksplorasi hal-hal baru yang bisa ia lakukan. Dalam berkarya dan mengerjakan banyak hal sekaligus, Liko berpegang pada saran dari ayahnya. “Segala sesuatu itu bisa lo lakuin asal lo mau. Jangan pernah bilang nggak bisa, yang nggak bisa itu orang mati. There's always a solution kalau lo masih hidup, kalau lo ngerasa lo hidup.”