Lifestyle

Melihat Tren Online Thrifting Sebagai Fashion Berkelanjutan

By Adelia Dinda Sani

 

Menilik perkembangan industri mode di skala lokal maupun global, tak dapat dipungkiri bahwa isu ramah lingkungan serta keberlanjutan kian hangat dibicarakan di masa pandemi ini. Dilansir dari riset oleh McKinsey, fashion berkelanjutan menjadi sebuah tren terbaru yang diminati para generasi muda, terlebih dengan meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim di bumi. Meskipun begitu, daya konsumsi label yang tergolong ‘hijau’ masih cukup terbatas, dikarenakan harga yang dianggap kurang terjangkau bagi kaum milenial dan Gen-Z. Oleh karena itu, tak jarang bila kita berada dalam suatu dilema: beli pakaian yang murah tapi destruktif, atau yang mahal tapi berkelanjutan?

Sebagai alternatif, thrifting menawarkan pengalaman berbelanja yang nyaman, murah dan cukup ramah lingkungan. Di ranah lokal sendiri, thrifting telah banyak merambah ke ruang digital, khususnya di media sosial seperti Instagram. Jika kita awalnya harus jauh-jauh pergi ke berbagai pusat grosir baju bekas untuk berbelanja, kini, kita dapat melakukannya hanya dengan satu klik saja. Pergeseran ini telah melahirkan tren online thrifting yang kian merebak hingga dua tahun terakhir. Sebut saja berbagai online thrift store di Instagram seperti @make.them.jealous yang mendesain ulang pakaiannya, @shaysvintagefinds yang mendonasikan sebagian profitnya, @sun.circus yang bernuansa bohemian, hingga @youpoppin dan @_sunnysundayy yang mengkurasi pakaian vintage-ish.

Melalui siklus perputaran pakaian yang lebih lambat, thrifting dapat dilihat sebagai proses daur ulang pakaian yang meminimalisir jejak karbon pribadi kita. Alih-alih membuang baju yang masih layak pakai, thrifting mempromosikan konsep berkelanjutan dan mendorong tiap-tiap dari kita untuk memberikan ruang perjalanan yang baru dari pakaian bekas yang dijual atau dibeli. Melalui thrifting, konsumen dapat mendobrak tradisi kultur industri mode yang memproduksi pakaian dalam jumlah besar dan menghasilkan limbah tekstil dalam skala berlebih.

Tak hanya ramah lingkungan, thrifting pun juga ramah dompet. Bila sepasang jeans biasanya dihargai di atas lima ratus ribu rupiah, maka di online thrift store dapat dibanderol dengan hanya seharga seratus hingga dua ratus ribu rupiah. Bahkan, kebanyakan pakaian seperti kaos hingga jaket dapat diperoleh dengan harga di bawah seratus lima puluh ribu rupiah. Tentunya, terdapat kepuasan sendiri jika kita bisa mendapatkan barang berkualitas tinggi tanpa harus merogoh kocek yang cukup banyak.

Terlepas dari keunggulan thrifting dalam isu berkelanjutan, praktik berburu baju bekas ini pun memungkinkan kita untuk mengeksplorasi berbagai gaya dan makna. Berbeda dengan berbelanja di toko baru yang hanya berkiblat pada tren tertentu, kita dapat mengeksplorasi persona dan memperkuat otentisitas diri dengan mengincar segala macam aksesoris bercorak 80-an hingga sepatu streetwear terkini. Tidak ada batasan dalam melakukan mix n’ match, dan setiap dari kita dituntut untuk jadi kreatif dalam menemukan ‘harta karun’ yang tersembunyi.

 

Foto diambil dari:  @make.them.jealous @shaysvintagefinds@sun.circus @youpoppin, dan @_sunnysundayy