Lifestyle

Rekomendasi Film Hirokazu Kore-eda

Sineas Hirokazu Kore-eda bisa melihat hal yang tak dihiraukan oleh orang lain. Ia tak berminat menciptakan film-film blockbuster dengan tokoh heroik dan akhir bahagia. Alih-alih, ia piawai memotret kehidupan sehari-hari dari orang-orang yang terpinggirkan, begitu juga masalah-masalah modern yang berusaha dihadapi oleh masyarakat Jepang modern. Dalam film-filmnya, Kore-eda kerap mengungkapkan keprihatinan dengan kemelut sosial dan trauma tokoh-tokohnya yang juga sangat mungkin dialami oleh para penonton saat ini. Berikut enam pilihan film karya Hirokazu Kore-eda kurasi redaksi Insitu.

 

Nobody Knows (2004)

Bercerita tentang kehidupan empat bersaudara menghadapi masa remaja setelah ditinggalkan ibu mereka, film ini menunjukkan pemandangan langka berupa sudut pandang seorang anak mengenai dunia luar yang keras. Hirokazu menggambarkan kejamnya realita melalui gerak kamera yang tak terhalang, perlahan membuka tabir bahwa anak-anak tak punya siapa-siapa lagi selain satu sama lain. Ilustrasi yang gritty dan realistis mengantar pemeran utama Yuya Yagira memenangi piala Aktor Terbaik pada Festival Film Cannes 2004 pada usia 14 tahun.

 

Still Walking (2008)

Judul film ini diangkat dari sebuah lagu cinta berjudul Blue Light Yokohama, yang liriknya memiliki peran penting dalam film ini. Menceritakan keluarga Yokoyama yang setiap tahun memperingati kematian anak pertama mereka Junpei, tak ada melodrama atau upaya berlebihan untuk menunjukkan kesedihan dalam film ini. Still Walking merupakan drama yang mengangkat kisah bagaimana sebuah keluarga dipengaruhi oleh kejadian tragis dengan sangat realistis. Setiap adegan dan dialog digunakan dengan sangat hati-hati untuk mengungkap keadaan batin karakter-karakternya. Hirokazu sendiri telah menyatakan bahwa film ini terinspirasi dari kematian ibunya yang sangat berpengaruh dalam karirnya.

 

Like Father, Like Son (2013)

Dalam film ini, dua keluarga dari kelas sosial yang jauh berbeda harus mendapati fakta bahwa kedua anak lelaki mereka telah tertukar. Kore-eda mengatakan bahwa film ini merupakan cerminan dari perasaannya setelah menjadi ayah, menyadari bahwa ia tak merasa memiliki ikatan emosional dengan anak perempuannya beberapa saat setelah ia lahir. Selain itu, film ini juga mengangkat tema-tema seperti konsep nature versus nurture hingga bergesernya peran dan ekspektasi tentang menjadi ayah dalam masyarakat Jepang modern.

 

Our Little Sister (2015)

Diadaptasi dari serial manga, Our Little Sister menceritakan tentang tiga orang kakak beradik yang mengadopsi adik tiri mereka saat ayah mereka meninggal. Dengan penggambaran musim yang cantik lewat kembang api musim panas dan bunga-bunga plum, Kore-eda sukses memotret keahlian aktris-aktrisnya dalam bermain peran dengan latar yang tak kalah menarik dengan pergerakan kamera yang lembut.

 

After The Storm (2016)

Ryota, seorang mantan penulis terkenal, sedang berada dalam titik rendah dalam hidupnya. Dengan kegemarannya berjudi dan karirnya yang mandek, ia memutuskan untuk memperbaiki hubungan dengan keluarganya. Mantan istrinya sudah lelah dengan janji-janjinya yang tak ditepati, sementara adiknya mencurigai ia telah meminjam uang dari ibu mereka. Karakter-karakter dan jalan cerita yang dinamis dalam film drama ini tak sarat dengan humor yang membawa kita pada perjalanan emosional untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu.

 

Shoplifters (2018)

Pemenang penghargaan bergengsi Palme d’Or di tahun 2018, Shoplifters adalah drama menyentuh mengenai kehidupan masyarakat terpinggirkan di Jepang. Keluarga Shibata terdiri dari tiga generasi yang tinggal bersama dalam sebuah rumah sempit. Para tulang punggungnya adalah pekerja kasar dengan upah rendah yang susah payah memberi makan anak-anaknya. Premis ini tentu mudah digambarkan dengan dramatis dan penuh iba, tetapi Kore-eda sukses memanusiakan tokoh-tokoh tersebut dengan penceritaan yang hangat dan penuh harapan.