Lifestyle

Tahun Baru Dan Segala Omong Kosongnya

By Ian Hugen

 

Rasanya di hari-hari pertama setiap tahun, pertanyaan yang paling sering dilontarkan satu sama lain adalah ‘Jadi resolusi tahun ini apa?’. Kebanyakan orang menandai pergantian tahun sebagai sebuah awalan baru untuk memulai sesuatu. Makanya tidak heran kalimat-kalimat motivasi klise seperti ‘New Year, New Me’ bisa dijumpai bertebaran dimana-mana sebagai caption di unggahan tahun baru berbagai kelas khalayak muda.

Tidak bisa dipungkiri juga, energi kemeriahan tahun baru memang begitu ajaib. Sepertinya banyak orang yang tersihir dan meningkatkan rasa percaya dirinya di bulan Januari sampai Februari. Mereka tampaknya begitu optimis akan hari-hari baik dan berbagai kesempatan baru yang ditawarkan momen pergantian tahun ini; which is good. But on the other hand, tak sedikit juga orang yang memilih untuk melangkah memasuki tahun baru, justru tanpa resolusi dan ekspektasi apa-apa.

Ini sama sekali bukan karena pesimis akan hari-hari baik. Ini juga bukanlah indikasi kalau mereka adalah orang-orang yang hidup tanpa ambisi dan tujuan. Tetapi, merencanakan pencapaian nampaknya hanya akan menjadi pintu gerbang kekecewaan jikalau tidak tercapai suatu hari nanti. Makanya memilih untuk hidup tanpa ekspektasi apa-apa sepertinya akan lebih baik dan aman. Disamping itu juga, resolusi tahunan hanya akan membuat segala sesuatunya terasa lebih berat untuk dijalani. Apalagi saat sudah mendekati akhir tahun dan belum ada yang tercapai. Hadirnya daftar resolusi itu terasa seperti beban yang harus diwujudkan. Mungkin karena beban hidup sudah cukup banyak, maka orang yang melangkah tanpa resolusi menolak untuk menambahkannya lagi dalam wujud lain.

Selain itu, list harapan untuk waktu yang akan datang seringkali membuat banyak orang lupa untuk bersyukur. Kebanyakan terlalu sibuk mengejar apa yang belum tercapai hingga akhirnya lupa untuk mensyukuri segala sesuatu yang sudah diraih. Lalu, persoalan ‘berubah’ untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukannya kita bisa berubah kapan saja ya? Kenapa harus menunggu tahun baru dulu baru mau berubah? 

Sebagai penutup, percayalah tidak ada yang salah dan benar disini. Beberapa orang memang butuh hadirnya resolusi sebagai pacuan hidup dan itu sah-sah saja. Hadir artikel ini hanya sebagai perwakilan saja untuk mereka yang berada di kubu sebaliknya. Nah, kalau kamu? Kamu ada di sisi mana?