People

Affandi

Lahir di Cirebon, 1907 sebagai anak seorang mantri ukur di pabrik gula, tak banyak yang menyangka bahwa Affandi akan menjadi seorang seniman besar.

Hidup Affandi tidak selalu berjalan mulus. Meskipun telah gemar menggambar sejak masa kecilnya, ia sama sekali tak pernah mengenyam pendidikan seni formal selama hidupnya. Ia sempat bekerja serabutan sebagai guru, pembuat papan nama, pelukis reklame, tukang cat, hingga juru sobek karcis di bioskop untuk menyambung hidup. Meskipun begitu, semangatnya untuk melukis tidak padam. 

Di tengah tren lukisan pemandangan cantik bergaya Mooi Indie pada tahun 1930-an, Affandi memilih untuk melukis realita yang lain--realita yang dihadapinya sehari-hari. Yang menggugah hasrat berkesenian Affandi bukanlah pemandangan alam yang indah, tetapi kehidupan rakyat kecil yang ingin ia gambarkan sejujur-jujurnya. Karena itulah ia membentuk Kelompok Lima bersama dua kawan pelukis Barli dan Wahdi pada tahun 1935. Gambaran-gambaran realisme yang lekat dengan kesusahan, penderitaan, dan kekerasan yang dialami oleh rakyat menginspirasi karya-karya Affandi pada masa ini, seperti "Ayam Jantan yang Mati Menggeletak" (1943), "Poelang Membawa Bebek Pincang" (1943), "Tiga Jajaran Potret Pengemis" (1943), dan "Burung Gereja Mati di Tangan" (1943). Pada masa ini pula Affandi menyelesaikan lukisan berjudul "Potret Ibuku" (1936), yang diakui sebagai karyanya yang paling memuaskan secara teknik maupun emosional.

Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Tahun 1943, Affandi berhasil menggelar pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetra Djakarta. Menjelang kemerdekaan Indonesia pula, Affandi ikut serta mengambil bagian untuk membuat poster propaganda revolusi yang ikonik. Menggambarkan seorang lelaki yang berteriak dengan tangan dililit rantai terputus, poster tersebut juga meneriakkan semboyan yang dicetuskan penyair Chairil Anwar, "Boeng, Ajo Boeng", sebuah ajakan yang singkat namun kuat dan bersemangat. Ia juga mulai bereeksperimen dengan gaya-gaya melukis lain, termasuk ekspresionisme dan abstrak.

Bakal melukis affandi telah mendapat banyak perhatian dari dunia. Pada tahun 1951 hingga 1977, ia mengadakan pameran keliling di negara-negara Eropa. Affandi juga sempat menggelar pameran tunggal di World House Gallery, New York. Gelar-gelar kehormatan berdatangan dari dalam dan luar negeri. Walaupun begitu, Affandi tidak berubah. Tanpa malu, Affandi masih menyebut dirinya sendiri sebagai "Pelukis Kerbau" yang tak gemar membaca teori seni rupa. Hingga akhir hayatnya, Affandi telah menghasilkan 2000 lukisan, sejumlah di antaranya disimpan di Museum Affandi di Yogyakarta yang menjadi saksi sejarah kehidupan seorang maestro seni lukis Indonesia.