People

Denisa

Beberapa minggu setelah EP perdananya “Crowning” dirilis, redaksi Insitu berkesempatan untuk berbincang dengan solois Denisa mengenai proses kreatif dalam bermusik, membagi waktu antara bekerja dan berkarya, dan rencana-rencana di masa depan.

 

I: Bagaimana awalnya kamu mulai suka hingga akhirnya membuat musik?

D: Musik pertama yang kudengarkan adalah Green Day dan Sum 41 dari kakakku. Dia yang mengenalkanku pada lagu-lagu itu, yang sering disetel saat kami berangkat sekolah. Waktu aku SMP barulah aku mulai les piano, I hated it. Aku coba gitar, I hated it. Barulah setelah itu aku mencoba nyanyi dan suka. Meskipun sekarang aku sekolah audio engineering, aku nggak kepikiran untuk berkarir di bidang audio engineering, aku ngelihat diri sendiri bakal berkarir di bidang musik. I'm a both technical and creative person, but I think I enjoy the creative side more.

 

I: Kalau begitu, kenapa memilih untuk mempelajari audio engineering?

D: Gara-gara aku takut nggak bisa dapat pekerjaan yang stabil dari musik. Waktu aku daftar ke sekolah audio engineering, ayahku sempat nanya, "Dek, kamu tahu kan ini bukan musik?" Pada saat itu aku belum tahu sama sekali audio itu ngapain aja. Waktu sekolah sudah jalan, kupikir penting banget untuk mempelajari ini semua supaya nanti ketika aku sudah menjadi penyanyi, aku sudah tahu proses teknis audio. I'd rather have music as a side thing but know all the technical terms.

 

I: Bagaimana proses di balik pembuatan EP “Crowning”?

D: Tahun lalu aku sempat bergabung di sebuah band. Kami sempat rilis dan ngadain showcase, tapi terus bubar. Kupikir aku masih mau bikin musik, tetapi sendirian. Sebenarnya aku nggak kepikiran untuk bikin EP. Di otak mikirnya yang penting rilis aja, buat stress release juga. Lalu aku ketemu Dias [Widjajanto, vokalis/gitaris Glaskaca] yang kuminta tolong untuk bantuin producing. At first it was a slow process, songwriting dan rekaman satu-satu untuk tiap lagu. Di tengah-tengah proses itu, aku juga sibuk dengan tugas akhir dan lain-lain jadi prosesnya makin lama. Di saat itu, aku kepikiran untuk bikin EP aja as a comeback. Setelah dirilis, I did not realize the feedback would be that good. Menurutku sesi produksi EP ini salah satu sesi yang paling enjoyable selama ini.

 

I: Bagaimana konsep EP "Crowning"?

D: Beberapa lagunya menceritakan tentang struggle-ku dengan kesehatan mental, tapi beberapa lagu lain bercerita tentang keadaanku sekarang yang jauh lebih baik. Ada dua lagu lain yang cenderung bercerita tentang isu-isu human rights. Mungkin nggak terlihat secara langsung, tapi kalau didengarkan baik-baik, aku pakai banyak metafora dalam penulisan lirik. Aku nggak ingin terdengar terlalu straightforward.

 

I: Bagaimana kamu menyeimbangkan studi, pekerjaan, dan berkarya dalam musik?

D: Untungnya saat ini aku cuma punya 3 kelas seminggu, jadi aku bisa menggunakan waktu lain untuk recording atau songwriting. Kalau kerjaan audio juga biasanya weekend. Banyak teman-temanku yang fokus banget sekolah jadi nggak ambil job apa-apa, dan banyak juga yang bilang sekolah itu cuma ngabisin waktu. Tapi kupikir, sudah waktunya aku serius menekuni bidang ini, baik secara ilmu maupun pengalaman. I just want to start early. Capek sih, tetapi saat kamu sudah suka dengan hal yang kamu lakukan, rasanya puas banget. 

 

I: Selain menyanyi, adakah hal lain yang ingin kamu lakukan?

D: I think painting. Dulu aku sering melukis, lalu sempat berhenti. Menurutku, visual arts bisa complement musik dengan baik--seperti membayangkan bagaimana musik itu bisa diterjemahkan dalam medium lain, mood-wise. Aku juga ingin coba film-scoring dan producing.

 

I: Apa rencana selanjutnya untuk Denisa?

D: Aku punya rencana untuk bikin double-track EP yang jadi penyambung ke sebuah album, semoga aku bisa mulai bulan Januari ini. Aku nggak suka keadaan idle dan nggak ngapa-ngapain, it doesn't look productive. Aku nggak bisa diem dan nggak bikin apa-apa.