People

Gema Semesta

Sudah hampir tujuh bulan kita semua menghadapi situasi pandemi yang membawa banyak perubahan dalam hidup kita, mulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil sampai ke pola pikir sendiri. Situasi ini membuat kita untuk mengulik kreatifitas kita di luar comfort zone sendiri. Namun, bagi Gema Semesta untuk tetap tinggal di rumah saat ini telah menjadi tempat untuk mencari inspirasi karyanya sebagai desainer grafis dan ilustrator. Berangkat dari background pendidikan dan profesi di bidang desain grafis, Gema sangat menggemari menggambar dari kecil dan menjadikanya sebagai hobby di bidang illustrator. Ngobrol bareng lewat aplikasi Zoom, tim redaksi Insitu mendapatkan banyak insight dari Gema dimulai dari creative direction yang dia bawa, menghadapi creative block dan mencari inspirasi untuk berproses dalam berkarya.

 

Apa yang bikin Gema ingin menjadi desainer grafis atau ilustrator?

Sebenarnya, kalau gambar itu memang hobi. Jadi dari kecil nggak bisa ngapa-ngapain selain menggambar. Pelajaran pun nggak terlalu bagus, olahraga juga nggak terlalu bagus, musik juga nggak terlalu bagus. Biasanya kan kalau dari kecil disuruh les banyak biar tahu bakatnya dimana, cuman dari kecil emang tahu sukanya gambar. Tapi dulu karir graphic design belum kayak sekarang. Bahkan, orang juga nggak tahu tentang graphic designer. 

Sempat juga pengen jadi arsitek karena bokap juga seorang arsitek. Waktu itu udah daftar kuliah arsi, tapi malah nggak srek dan cuman daftar kuliah arsitek dan graphic design. Habis itu udah ga daftar dimana-mana lagi. Akhirnya, memutuskan untuk ke design aja. 

Bukan memutuskan untuk ‘graphic designer for the living’ sih, tapi melakukan yang lagi digeluti aja pada saat itu. Karena emang nggak tahu juga graphic designer nanti jadi apa atau gimana, jadi lebih menjalani dan menekuni bidang yang dipilih. Malah sekarang karena berjalan terus, banyak surprise elements-nya kayak ‘oh ternyata dunia visual dan dunia grafis beda banget sama kuliah’. Sekarang malah lebih tahu harus gimana dan seperti apa dan untungnya nggak pernah pindah jalur atau ragu, tapi terus jalan aja. Jadi, bukan memutuskan untuk menjadi graphic designer for the living, tapi tetap berjalan aja sih.

 

Gema terkenal dengan simplicity and humility ya, creative direction apa yang Gema bisa define dari diri sendiri? 

Sebenernya, kalau simplicity ini lebih ke style. Semua orang-orang visual pasti punya style masing-masing. Cuman nggak tahu kenapa kalau gue bikin sesuatu, emang dari segi style selalu ke sesuatu yang simple. Padahal, proses pengerjaan tuh nggak pernah simple dan complex. Malah, bertolak belakang banget sama approach yang proses diawal dan yang sudah jadi sangat beda.

Kalau design lebih ke simplicity. Karena design itu sesuatu yang esensial, solving problems dan sistematis, jadi lebih simple jadi lebih clear dan lebih jelas untuk orang menikmati desainnya. Cuman kalau di ilustrasi itu beda banget, gue lebih explorative dan expressive, malah lebih rame. Mungkin dalam dirinya complex cuman pas disampaikan di design sama di ilustrasi, jadi dua hal yang beda kayak mem-fulfill kompleksitas dalam diri dengan ilustrasi. Cuman, yang mem-fulfill lebih simple di design.

 

Pernah juga berpartisipasi di Seek-A-Seek Graphic Design Exhibition, dengan project yang sudah dilakukan boleh diceritakan bagaimana approach desain dan art direction sendiri? 

Seek-A-Seek waktu itu emang last minute diminta sama Pak Hermawan karena dulu pernah kerja bareng di Leboye. Karena last minute, waktu itu kebetulan gue harus pergi ke jepang, sama last minute Seek-A-Seek-nya waktunya bertepatan di tanggal yang sama. Jadi pas gue di Seek-A-Seek, gue pake project yang udah ada, jadi gue ga create lagi. Gue pake project Tamili yang dibantu sama Liko untuk bikin setnya. Tapi kalau Seek-A-Seek, karena waktu itu sempet diskusi sama Pak Hermawan, kelebihan gue di design itu di ilustrasi. Jadi, men-combine ilustrasi dan grafis makanya milih project yang men-combine kedua itu. Di Seek-A-Seek kan banyak participants-nya, jadi gimana biar punya warna sendiri. Jadi gue coba ambil project yang ada ilustrasi dan ada grafisnya. 

 

Kalau secara in general, approach-nya bagaimana?

Kalau di design gue lebih responding sih cara approach-nya. Untuk bikin project lebih merespon client butuhnya apa, client-nya seperti apa dan project-nya seperti apa. Jadi gue pelajarin dulu, gue cerna dulu dan gue bikin semacam strategi. Ketika output-nya jadi, bisa macem-macem. Misalnya, ada project suruh bikin kosmetik, kan nggak mungkin sama kayak project restoran. Jadi kalau di design gue lebih ngerespon client tapi bukan berarti ngikutin client. Lebih ke diskusi, idealismenya itu tetap ada tapi tidak egois. Design itu nge-solve problem. Kalau egonya tinggi, belum tentu nge-solve sesuatu.

Kalau di ilustrasi lebih menjadi diri sendiri. Apa yang lagi dirasain dan apa yang terjadi di dalam diri, itu dituangkan ke ilustrasi. Mungkin di ilustrasi lebih bebas daripada nge-design. 

 

Boleh tolong diceritakan tentang Silver Screen Session?

Jadi tuh pas awal Corona, awal WFH, sebelumnya kita di studio kita ketemu dan ngobrol. Walaupun intense cuman ada bercandanya. Pas awal WFH tuh hilang banget – jadi semuanya tentang update kerjaan, bener bener intense dan mencekam karena ga ada ngobrolnya. Anak-anak juga menyesuaikan dan agak stress. Sama partner kerja gue, kita initiate Silver Screen Session ini. Jadi sebulan sekali atau per ada event, di hari Jumatnya bikin nonton bareng dan ngobrol-ngobrol biasa. Intinya untuk meluangkan waktu dengan team tapi bukan ngomongin tentang kerjaan. Karena kita suka nonton, nonton juga menjadi sesuatu yang seru dan bisa dinikmati semua. Simply, karena kehilangan momen bersama, kita bikin lah momen itu. 

 

Silver Screen Session ini nggak cuman dari anak-anak studio aja atau orang lain juga bisa ikut berpartisipasi?

Awalnya memang dari studio, cuman kita ada beberapa undang kerabat dan alumnus juga. Yang untuk umum, tadinya pengen sih tapi belum ada keberanian untuk blast. Cuman, untuk ke depannya bisa banget sih. 

 

Sekarang project apa saja yang sedang Gema kerjakan?

Di studio lagi banyak musik, fashion, arsitektur. Lumayan luas, fokusnya di branding cuman kadang kita bikin artwork, installation, website, exhibition, music video, dan semua yang bisa gue lakuin.

 

Berarti sempat jadi art director juga, ya? 

Lebih nge-direct sih untuk art directing. Challenge gue untuk punya studio dan running sesuatu sendiri adalah saat nge-direct timnya. Kalau gue ngerjain sendiri gue tau gue harus ngapain dan gimana caranya. Cuman, kalau gue harus nge-direct, nyampeiin ke tim itu bukan sesuatu yang mudah. Lebih gampang gue jadi runner, daripada gue nge-direct orang. Gue dapet simple happiness dengan membantu orang lain. Ketika dia berhasil, ketika portfolio dia dari A ke Z, gue punya kepuasan sendiri melihat itu semua. 

 

Client yang Gema paling suka saat mengerjakan suatu project?

Semua pasti suka, tapi yang seru banget waktu itu gue sempet kolaborasi dengan biro arsitek namanya FFFAAARRR. Itu gue emang banyak project sama dia. Gue bikin pameran occupying modernism namanya, pameran yang diadakan di Kopi Manyar Bintaro. Tapi menurut gue, itu sesuatu yang baru, seru dan di luar style kita sebagai designer dan arsitek. Malah, ketika kita dapat project itu, kita unlock sesuatu hal yang ada diri kita, dan sebenarnya kita nggak tahu kalau kita ternyata bisa mencapai hal-hal tersebut.

Recently, ada project sama Oppo dan seru banget. Dikasih brief dan kita nge-represent satu handphone dengan ide dan konsep kita masing-masing. Ketika client percaya dengan approach ke kita, client percaya dengan apa yang kita lakukan, malah menjadi sesuatu yang hasilnya bisa lebih sebagai designer.

 

Saat PSBB seperti ini, berinteraksi bareng teman-teman atau colleagues kan sudah tidak bisa lagi untuk saat ini. Kalau lagi mumet, dimana biasanya mencari inspirasi terutama di dalam bidang kreatifitas ini? Mungkin ada advice dari Gema Semesta untuk mencari inspirasi?

Kalau inspirasi itu, based on mood banget sih dan apalagi kerja kreatif bukan kerja yang exact dan tahu harus selalu ngapain. Sebenernya, kalau gue nyari inspirasi dari hal yang sekitar aja sih. Misalnya lagi duduk dan ke samping ada lemari ada sesuatu, itu bahkan bisa menjadi inspirasi juga. Kebetulan pas lagi pandemi, inspirasi project-nya berangkat dari sekitar rumah aja. Malah misalnya, kita ngerjaiin campaign, campaign-nya itu bisa ‘campaign at home’. 

Karena di kamar gue kebetulan banyak mainan masa kecil, ada beberapa project jadi game. Misalnya, punya stuffed animals, beberapa project dari personal stuff dan sesuatu yang lebih nostalgic. Karena kebetulan dari rumah, jadi ngeliatnya [barang] yang lagi di rumah, itu yang bikin inspirasi. Mungkin dulu bisa lihat lebih luas. Cuman, walaupun kita ga kemana-mana, kita masih bisa dapet inspirasi. Malah, ternyata inspirasinya nggak jauh-jauh, yang deket aja juga bisa.

 

Siapa orang yang paling berpengaruh di hidup kamu terutama saat berkarya?

Kalau influence banget, kayaknya dari dulu nggak pernah ada. Kalau tokoh atau orang, gue jarang banget. Kita pelajari graphic designer atau seniman-seniman dahulu cuman bukan pure influence untuk gue berkarya. Balik lagi, inspirasi terbesar adalah lebih apa yang lagi dirasain, [situasi apa] dan dimana kita berada itu bikin karya kita lebih jujur. Jadi nggak harus lihat siapa atau gimana, tapi lebih mengenal diri sendiri dan lingkungan. Malah, inspirasinya datang dari sekitar dan inner self akan lebih honest, lebih authentic dan hasilnya akan lebih puas.

 

Berarti selama pandemi gini, pasti ada dong rasanya bener bener jenuh, gimana Gema dapat mengatasinya?

Gue anaknya rumahan banget. Seneng banget pas semua orang disuruh di rumah. Setahun atau dua tahun belakang ini pergi mulu dan ketemu orang malah drained sampai benar-benar nggak ada waktu untuk diri sendiri. Gue menikmati ada di rumah, menikmati momen seperti ini. Tapi yang struggle-nya adalah koordinasi karena kerjanya nggak sendiri dan dengan tim yang karakternya beda-beda. Lebih ke komunikasi dan koordinasi dengan orang lain itu menjadi masalah. Dampak pandemi ke kerjaan, pasti semua orang juga mengalami. Kalau jenuh, kayaknya nggak sih, lebih gimana ke social life aja. Kalau diri sendiri, sangat baik-baik aja.

 

Kalau lagi ngerasain creativity block, biasanya ngapain?

Biasanya ga ngerjain, benar-benar nggak mau dipaksa nyari. Kalau deadline-nya udah mepet gue bilang ke clientnya ‘diundur dulu ya karena…’ atau se-simple melakukan sesuatu yang gue seneng, misalnya nonton atau gambar juga lumayan nge-release. 

 

Kalau lagi gambar pernah nggak sih ada perasaan ‘duh gue capek banget gue gambar lagi’?

Kalau gambar buat orang, client atau project, pasti ada pressure. Tapi, kalau gambar iseng apa yang gue pikirin dan gue tuangkan, gue release stress sih karena gue nggak mikir dan menjadi salah satu pelarian sih. Gue ga terlalu banyak project ilustrasi, jadi ketika menggambar itu memang sesuatu yang jarang dilakukan juga untuk saat ini. Pas ada project ilustrasi, gue malah jadi lebih semangat sebagai pelarian. Ketika gue nge-design mulu, gue punya ilustrasi untuk nuangin emosi dan ekspresi.

 

Seperti apa sih "a day in the life of Gema Semesta"?

Monoton aja sih. Gue benar-benar anak rumahan banget, anak domestik. 

 

Dilihat dari Instagram, Gema selalu menekankan mengenai ‘work in progress’. Bagaimana Gema mendefinisikan work in progress tersebut?

Pertama, gue malu sih lihatin hasil yang jadi tapi bukan berarti malu-malu. Cuman kalau lo mau liat yang beneran, lo bisa kontak gue atau lihat portofolio yang lebih proper. Social media tuh lebih karena Instagram dibuat untuk sesuatu yang lebih instant, ga dipikirin, lebih effortless, lebih believable. Di situ akan selalu progress dan proses yang gue liatin. Cuman kadang, gue kasih yang udah jadi. Kalau Instagram sendiri, lebih ke proses dan mungkin kedepannya, gue akan bikin website dimana lebih banyak project yang udah jadi sih. Jadi, emang bukan tipe orang yang terlalu jor-joran. Balik lagi ke sesuai dengan diri sendiri. 

 

Jadi, apakah Gema percaya kalau setiap orang memiliki warna tersendiri sebagai bagian dari branding mereka? 

Semua orang punya warna sih. Gue percaya orang punya dua warna. Jadi ada warna yang orang melihat lo dan ada warnanya karena lo gini, tapi ada juga warna yang bikin lo happy tapi belum tentu itu menjadi warna favorit. Kalau gue warna favorit gue biru, segala macam biru gue suka. Yang bikin gue happy itu silver, jadi kalau gue liat silver pink atau metallic pink gue seneng banget. 

 

Lagu apa yang menjadi soundtrack hidup Gema?

Bob Dylan - Don't Think Twice It's All Right.

 

Jadi, apa nih selanjutnya untuk Gema Semesta?

Dari awal, gue selalu berjalan aja. Gue tau gue mau ngapain dan caranya gimana, cuman gue itu nikmatin element surprise di tengah jalan. Jadi kalau gue planning suatu hal, gue akan terlalu fokus sama si plan itu dan akan jadi kehilangan surprise yang mungkin terjadi. What’s next buat gue adalah gue punya goal dan tujuan untuk nyampe kesana. Gue sangat terbuka dengan possibility dan surprises. Secara pribadi, to be happy.

Bahagia itu nggak sederhana. Bahagia itu sulit dicapai. Kalau diri sendiri udah happy dan udah content, apapun yang dilakukan nggak masalah. Gue ga mengejar yang bergebu-gebu, cuman balik lagi ke diri sendiri gimana nanti. Ketika lo nggak pure 100% happy karena pasti akan ada downhill-nya. Tapi ketika lo udah content dan lebih happy dari sekarang, lo bisa nerima apapun yang terjadi sekarang.