People

Paul Agusta

Di tengah pandemi COVID-19 yang melanda, industri film menjadi salah satu sektor yang terkena dampaknya. Proses produksi film terhenti, bioskop tutup, dan film-film baru belum dapat ditayangkan. Walaupun begitu, bukan berarti para pekerja film berhenti berkarya. Redaksi Insitu berkesempatan untuk mengobrol dengan Paul Agusta, seorang sutradara, aktor, penulis naskah, sekaligus acting coach dan co-founder Bengkel Akting Kuma mengenai berkarya di tengah pandemi, inspirasi, dan proses kreatif dalam membuat film.

 

Apa yang membuatmu tertarik dengan film?

Sejak umur 8 tahun, gue nggak pernah punya cita-cita lain. My mother took me to watch Never Ending Story di bioskop, dan aku takjub. Aku tanya pada ibuku, siapa yang membuat film-film itu? Ibuku menjawab, mereka sutradara. I told her I want to be one. Orang tuaku sangat mendukung cita-citaku ini. Di tahun 90-an, Tempo bikin Komunitas Utan Kayu yang sekarang jadi Salihara. Di situ dulu ada pemutaran film reguler setiap bulan yang dikurasi oleh Rayya Makarim yang baru lulus sekolah film pada waktu itu. Ayahku mengenalkanku sama Rayya waktu aku masih berusia 16 tahun, dan kemudian setiap bulan aku rajin nonton ke sana. Rayya adalah yang pertama kali mengajariku menulis skenario. By the time I went to film school in Arizona State University, I was already prepared. Dosen-dosen gue bingung, kenapa gue udah ngerti duluan.

Pada dasarnya, I am interested in the creation of cinema. Jadi beneran semua aspek. Selama berhubungan dengan membuat film, lo kasih job desc apapun, gue ikut. Gue pernah jadi casting director, dan lain-lain. Tapi kalau ditanya what is my biggest passion, it is directing.

 

Bagaimana Paul mendeskripsikan karya-karyanya?

Gue selalu berusaha berkarya dengan jujur. Setiap kali gue kepikiran ide atau dikasih skrip gue tanya diri sendiri, would I watch it? If the answer is no, then I wouldn't do it. I would only make a movie I would watch. Nggak jujur banget kalau gue bikin film yang gue sendiri nggak mau nonton.

 

Bagaimana Paul menemukan orang-orang lain sebagai kolaborator dan bagaimana menjaga hubungan dalam kolaborasi?

Gue selalu memilih anggota tim berdasarkan rekomendasi kawan-kawan. Gue juga cenderung mengulang, kalau sudah pernah kerja dengan orang yang sama, kalau sudah enak biasanya akan gue pakai berkali-kali. Gue jenis sutradara yang akan tenang kalau punya satu pegangan. Khiva is one of my go-to actors. Tetapi di Daysleepers gue juga kerja dengan dua anak baru banget. Gue selalu kasih kesempatan juga buat aktor-aktor baru.

 

Siapa inspirasimu dan bagaimana lingkungan menginspirasimu?

Human beings inspire me. How people are able to live inspire me. Aku punya role models seperti orang tuaku, mentor seperti Rayya Makarim, Faozan Rizal, Lisabona Rahman, these are people who have always been around for me. Ada juga beberapa filmmaker yang menginspirasiku seperti Joko Anwar, Edwin, Mouly Surya, Kamila Andini, mas Garin Nugroho. Tetapi pada akhirnya, semua ceritaku berasal dari orang-orang. The stories I want to tell are about waking up in the morning after a really hard night.

 

Film berevolusi seiring dengan proses kreatifnya, kadang yang diinginkan dan direncanakan dari awal bisa berubah selama film tersebut dibuat. Bagaimana Paul menghadapi hal ini?

Kita sudah harus pasrah bahwa 100% itu nggak bisa dicapai. Sebelum film dibikin, film itu kadang sudah jadi di kepala seorang filmmaker. Tapi untuk menjaga kewarasan, dari awal kita harus terima bahwa 100% itu tidak akan kesampaian. Tapi kita bisa kejar sedekat mungkin, dan mungkin juga bisa jadi lebih bagus dari yang ada di kepala kita karena adanya kolaborator. Jadi jangan terlalu terpaku pada target 100% itu. 

Yang kedua, percayalah pada persiapan mati-matian. Gue mendingan sakit kepala, pusing, dan berdebat dengan kru dan kolaborator saat pra-produksi sehingga saat shoot tinggal mengeksekusi apa yang sudah disetujui semua pihak. Kalau persiapan sudah matang, biasanya shootingnya akan minim masalah. Yang penting adalah komunikasi antara gue dan kolaborator harus sudah lancar sejak awal. Untuk menghindarinya, bersiaplah and have your nervous breakdown in advance, hahaha. Jadi saat film sudah selesai, kamu akan bisa menerima hasilnya karena kamu sudah berusaha sebaik-baiknya. Don't give yourself a chance to second guess yourself.

 

Bagaimana proses kreatif dalam pembuatan film panjang terakhir Paul, Daysleepers (2018)?

Sebenarnya apa sih human connection itu? How connected do we have to be? Gue berangkat dari pertanyaan-pertanyaan itu saat membuat Daysleepers, meskipun filmnya yang jadi malah nggak menjawab itu sama sekali. Hasil akhirnya malah membuat belasan pertanyaan lain.

 

Film apa yang paling challenging untuk diproduksi?

My second feature film, “At the Very Bottom of Everything”, karena harus membangun 5 set. Purely experimental and non-narrative, bahasanya hampir 90% visual. Biasanya bikin film pendek seperti ini, tapi ini film panjang 90 menit dan jadi susah.

 

Selain membuat film dan berakting, Paul juga menjadi acting coach dalam Bengkel Akting Kuma. Bagaimana awal terbentuknya Bengkel Akting Kuma?

Ini dimulai di 2016 oleh aku dan Khiva Iskak berdua. Kami merasa ada kekurangan suplai aktor-aktor baru. Walaupun pada saat itu sudah ada beberapa kelas akting, tapi tanpa merendahkan yang lain, kami merasa belum ada yang spesifik dengan output akting untuk layar. Jadi yang diajarkan bukan akting saja, tetapi korelasi dengan film dan mengekspos aktor ke cara berpikir sutradara. Kami berdua bikin pembelajarannya dari perspektif seorang working actor yaitu Khiva, dan aktor sekaligus sutradara yaitu gue.

Waktu kami baru mulai, tempatnya bukan di Selatan. Kami berdua mengajar 6 orang di batch pertama. Kami sempat non-aktif selama setahun lebih karena urusan manajemen. Di akhir 2017, kami dikontak oleh Kartika Jahja, pemilik Ruang Selatan yang sedang mencari partner untuk diajak kolaborasi untuk beraktivitas di space yang dia miliki. Aku dan Khiva langsung kepikiran, this is the perfect home for us. Selatan dibuka di bulan Mei 2018, jadi kami punya waktu untuk menggodok silabus baru. Di saat itulah kami sadar bahwa kami nggak bisa melakukan ini berdua saja, jadi kami mengajak 2 orang mentor lagi dengan spesialisasi yang berbeda untuk mengajar di kelas. Di bulan Juni 2018 kami menjalankan batch pertama di Selatan, dan terbukti it's the perfect match for us.

Pertanyaan yang sering banget kami terima adalah "kok mahal?" Itu bisa kami jawab dengan sangat mudah. Banyak kelas-kelas lain memiliki 20-30 murid, tetapi kami batasi hanya 10 orang di kelas dengan 4 orang pengajar. Jadi kebayang kan, hands-on banget. Semua akan diperhatikan. Individual needs of every student will be met. Kita ingin anak-anak yang sudah selesai belajar dari kita bisa mulai untuk bekerja secara aktif di industri, dan spesifik untuk akting layar.

 

Bagaimana dampak COVID-19 terhadap industri film?

Kalau gue ngeliat dari teman-teman sekitar, kami malah jadi lebih produktif. Mungkin secara finansial dan pekerjaan kami terhambat, tapi banyak filmmaker dan penulis yang selama beberapa bulan ini fokus untuk develop project, jadi saat hari-hari sudah kembali normal kita bisa langsung kerjakan. Bikin-bikin film pendek via Zoom, mengisi bank ide, dan lain-lain. Anak-anak Bengkel Kuma juga beberapa bulan terakhir produktif banget. Membuat video bikin puisi, monolog, dan lain-lain.

 

Saat apa sajakah Paul merasa paling kreatif?

Talking to other filmmakers and other creatives. Ngobrolin karya dan konsep selalu membantu. Jadi support system kreatif itu penting banget.

 

Step-step apa yang Paul ambil untuk menjadi seperti sekarang?

Jangan pernah berhenti berkarya. Setiap ada kesempatan untuk membuat sesuatu, buatlah. Kalau orang nanya filmografi film pendek gue, mereka bakal kaget karena gue sudah membuat over 60 films. Gue selalu encourage anak-anak untuk jangan berhenti menghasilkan apapun, sekecil apapun.

 

Apa saran terbaik yang pernah kamu dapat tentang membuat film?

Jangan mikirin orang bakal suka. Dosen gue dulu pernah ngomong, "Just worry about making what you want to make. If you feel good about it, there is at least one person out there that feels the same way." Pada dasarnya sebagai filmmaker kita harus ingat bahwa kita adalah penonton pertama film kita. 

 

Apa rekomendasi film-film yang ingin Paul berikan untuk calon-calon filmmaker di luar sana?

Kalau boleh jualan, look me up on Letterboxd, hahaha. Banyak banget list film yang gue update di sana.

 

Apakah rencana selanjutnya untuk Paul?

I have a bunch of things in development, termasuk satu feature film tapi gue masih belum bebas untuk ngomong, hahaha.