People

Perjalanan Musik Di Balik Nama Sasan Fai

Oleh: Sheila Bell 

Hal-hal yang tidak terduga sering terjadi dalam kehidupan. The tides may be high, tapi kita harus tetap bertahan. Bagi sebagian orang, terkadang tidak terlalu menyakitkan untuk go with the flow dengan proses perjalanan kehidupan. Fase ini pun yang sedang dialami oleh Hazbi Faizasyah, seorang musisi asal Jakarta yang baru saja merilis album bergenre folk rock yang berjudul Sasan Fai. Hazbi berbagi cerita kepada Tim Insitu mengenai proses pembuatan album dan mendapatkan inspirasi nama panggung Sasan dari seorang raja Persia. 

Masa kecil Hazbi tinggal di berbagai macam negara meninggalkan banyak pengaruh dalam proses kreatif musik. Sebagai freelance photographer, Hazbi mulai menulis lagu pada tahun 2015 dan mulai mengisi acara pada tahun 2016. “Gue ngga pernah merilis apapun pada saat itu”, dia berkata, “Gue mulai mengenal orang-orang pada saat itu dan gue mulai serius dalam bermusik ketika pertama kali melakukan sesi dengan Sunyata pada September 2016”. Ketika berjumpa dengan beberapa musisi lokal, Hazbi lebih banyak berkontribusi di balik layar dengan membuat music video untuk independen pada saat itu seperti Pamungkas dan Saints and Vixens.

Hingga 2017, dia pergi ke Kanada dan memutuskan untuk break dari musik. Banyak kepentingan pribadi terjadi di perjalanan karir seniman lokal ini, namun dia tetap menulis beberapa lagu dan bermain di ruang lingkup fotografi. Pada akhir tahun 2017, Hazbi kembali ke Jakarta dan mulai bekerja di sebuah instansi pemerintah dengan rutin bekerja nine-to-five. Terjebak dalam rutinitas sehari-hari, dia mulai melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan musik seperti merekam music video pada akhir pekan dengan Sunyata. Melihat situasi ini menjadi stress reliever bagi Hazbi untuk mengambil gitarnya dan bermain sedikit setelah pulang kerja. Sepanjang tahun, musisi lokal ini meluangkan waktu untuk  bermain musik lagi. Akhirnya, dia menyadari sudah ada lima belas lagu yang direkam dari handphone-nya. Memproduksi album selalu terlintas dalam pikirannya tetapi tidak pernah terealisasikan sampai dia memutuskan untuk resign dari kantor. 

Melakukan percakapan yang menyenangkan dengan Hazbi, Tim Insitu menyingkap pria di balik suara Sasan Fai dari proses pembuatan album hingga mendapatkan inspirasi dari salah satu tempat di Jakarta.

Bagaimana proses pembuatan album ‘Sasan Fai?’

Di tahun 2019 dari Juli sampai Agustus cuman dalam satu bulan dengan sepuluh lagu-lagunya. Gue nggak mau lama rekam soalnya waktu itu gue sempat terinspirasi dari Lou Reed dari The Velvet Underground. Dulu sempat baca interview dan artikel bahwa album pertama mereka hanya butuh waktu 3 hari rekaman. Jadi, gue target-in sebulan aja dan intens banget dari bulan Juli sampai Agustus. Gue akan rekam gitar dan weekend selanjutnya gue rekam perkusi dan next-nya lagi bass, lalu gitar dan terakhir, vokal. Jadi rasanya intens banget. 

Semuanya selesai di minggu pertama Agustus. Lalu mixing dan mastering-nya agak lumayan lama jadi gue pindah studio di Palm House Studio di bulan September dan mereka membantu merilisnya pada bulan oktober di lagu pertama yang keluar. Jadi semenjak gue pindah ke Palm House gue rasa mereka detail aja dan profesional aja dari segi post-production dan rekaman juga. Semua berlalu begitu aja sih.

Jadi kamu tidak pernah melihat kalau akan merilis album di tahun ini, tiba tiba itu terjadi begitu saja?

Tahun lalu gue ngga kebayang sih. Mungkin baru kebayangnya pas baru mau rilis album pas gue baru kerjain aja sih. Maksud gue di bulan Juni atau Juli gue pikir ‘oh bisa nih gue rilis mungkin di akhir tahun 2019 atau awal tahun 2020’. Tapi sebelum juni itu gue belom kebayang gue bakal rekaman sama sekali. Gue masih mondar mandir sana sini.

Dan album kamu rilis deh! 

Gue ngga menyangka karena masih freelance, bahkan sampai Agustus gue masih freelance di sebuah publikasi.

Jadi kamu pernah kerja kantoran dan setelah itu resign untuk fokus karir di musik. Gimana bisa melewati itu semua?

To be honest, gue ngga sih. Sampai saat ini gue masih belum yakin. Kalau gue kerja nine-to-five gue rasa setiap hari tuh udah di set. Gue tahu besok apa yang akan terjadi dan setiap bulan gue akan dapat bayaran gue. Tapi sekarang apa nih? Itu sih yang gue rasa. Oke gue akan baik-baik aja selama sebulan, terus apa? Kosong. Gue ngga bisa liat apa pun yang ada di depan gue. I’m like thinking gue cuman bisa lihat dua minggu atau sebulan kedepan aja gitu. Terus abis itu apa lagi?

Seinget gue, di bulan April, gue cuma ada 2 bulan gaji gitu dan sedikit savings. Saat itu lah gue mulai menggunakan uangnya untuk rekaman awal di bulan Juni. Tapi, I wasn’t set for life. Pekerjaan freelance dukung gue dan gue dapet duit dari situ dari bulan Juni sampai Agustus. Selebihnya, gue ngga tahu untuk bulan kedepannya gimana. Dari bulan September sampai awal tahun 2020, gue masih cari kerjaan. 

Gue masih berusaha menjalani apapun yang gue bisa setiap hari. 

Siapa yang menjadi inspirasi musik terbesar kamu?

1. Lou Reed dari The Velvet Underground

Gue mendengarkan banyak solo projects setelah mereka menghentikan bandnya dan kemudian Lou Reed melakukan banyak solo-nya. Gue suka karyanya karena simple. Gue belajar banyak dari mendengarkan rekaman dan lagunya karena semuanya simple dan straightforward. Liriknya juga membantu gue karena dulu gue kalau nulis lirik itu berlibat dan banyak. Dengerin lagu-lagunya Lou Reed gue rasa membantu oh ternyata ngga harus ribet ribet banget ya, simple-in aja. So in a way, sangat membantu gue untuk memiliki approach lebih simple dan straightforward untuk penulisan lagu.

2. Devonte Hynes dari Blood Orange

I love him. Satu hal yang paling menginspirasi gue dari Devonte adalah komitmen untuk mengerjakan album demi album. Dan dia selalu berubah, tidak terlalu drastis tapi selalu berinovasi dan menambahkan sesuatu yang baru ke setiap rekaman.

3. Jonathan Richman 

Pas gue resign dari pekerjaan gue, gue lagi search di Google tentang ‘kebingungan’. Gue lagi bener-bener bingung jadi gue cari ‘being confused and what to do?’. Dan albumnya yang berjudul ‘I’m So Confused’. Jadi bisa dibilang dia adalah salah satu inspirasi ketiga gue soalnya pas banget gue nemuin album dengan judul seperti itu dan beginilah perasaan gue. Pas gue dengerin, ya gue merasakan kebingungan itu. Membantu gue melewati hari-hari gue di awal tahun 2019.

Pesan atau tema apa yang kamu ingin memberi tahu untuk album ‘Sasan Fai’?

Buat gue, alasan album ini self-titled karena ngga tahu harus menyebutnya apa lagi sih, sejujurnya. Gue bingung namain ‘apa ya albumnya?’ Ngga ada tema atau apapun jadi gue sebut saja ‘Sasan Fai’ sebagai pengantar. 

Karena gue merasa album ini sangat pribadi. The songs took five years untuk albumnya. Track kedua gue tulis di tahun 2015 terus gue break cukup lama dan mulai menulis lagi. Jadi bahan dari album ini ada yang dari tahun 2015 dan 2017 sampai 2019. Jadi gue rasa empat sampai lima tahun menulis. Makanya mungkin bisa dibilang self-titled aja sebagai pengantar agar orang bisa tahu siapa gue sebagai seniman atau musisi. 

Bagaimana bisa menemukan inspirasi untuk menulis lirik? Apakah itu berdasarkan pengalaman?

Pertama aransemen musiknya. Biasanya inspirasi datang saat gue sedang merasakan emosi tertentu. Apakah gue sedang merasa sial atau merasa bersyukur atau senang atau memikirkan sesuatu di masa lalu. Itu akan keluar sebagai musik dan musiknya akan menjadi emosi itu.

Penulisan liriknya akan muncul setelah musik. Tapi ketika gue mengaransemen musik itu sendiri tanpa lirik, gue menggumamkan omong kosong. Liriknya mengikuti lagu itu dan setelah musik selesai, gue akan rekam versi kasar di handphone gue. Terus gue meluangkan waktu untuk menulis liriknya. 

Misalnya gue akan mumble beberapa kata sambil bikin lagu, and then pas rekaman gue pergi ke suatu tempat misalnya naik MRT atau lagi naik KRL, atau istirahat di sela-sela pekerjaan freelance. Gue cuma duduk dan mendengarkannya sambil nulis liriknya. Jadi keduanya akan dilakukan secara terpisah. Gue biasanya akan nulis di luar tapi ketika balik ke rumah, gue akan gabungin lagi. 

Tapi liriknya sendiri, mereka datang dari pengalaman pribadi pastinya. Semuanya pasti berasal dari apa yang gue alami. Gue hanya akan menulis sesuatu yang gue tahu atau yang pernah gue alami. Karena gue rasa harus bertanggung jawab atas hal-hal yang gue tulis dan rasanya nanti tidak sepenuhnya otentik. Bagi gue, gue harus tahu apa yang gue tulis makanya sebagian besar lagu ini berasal dari pengalaman pribadi secara langsung. 

Apakah punya lagu favorit dari album ‘Sasan Fai’?

Track delapan, “You Said I Can’t Take It Anymore”, karena gue kerjainnya cepat. Dalam lima menit gue langsung tulis lagu itu. Terkadang itu terjadi. Kadang-kadang musik dan lirik biasanya jatuh bersama hanya dalam waktu singkat dan gue bisa lakukannya dalam lima sampai sepuluh menit. Itu lagu tercepat yang gue tulis. Itulah mengapa ini menjadi favorit gue karena sederhana dan eksekusinya pas rekaman yang paling lengkap. Ada backing vocals, bass, perkusi dan drum, semuanya. Gue rasa ini paling bener pas ngerjain, paling rapi. 

Kalau ‘Jakarta’s Not That Bad’?

Gue suka lagu itu dan sebenarnya itu lagu terakhir yang gue tulis untuk albumnya. See, that’s one of the things. ‘Can’t Take It Anymore’ selesai paling pertama. Tapi ‘Jakarta’s Not That Bad’ gue belum selesai liriknya pas ambil vokal tapi udah punya musiknya. Gue ingin menulis tentang Jakarta, tapi waktu itu gue tidak tahu gue ingin menyebutnya ‘Jakarta’s Not That Bad’. Gue tadinya mau judulnya ‘Not That Bad’. Gue sebenernya menulis untuk diri gue sendiri waktu itu. 

Terkadang di Jakarta, lo tahu sendiri lah kayak ada hari-hari yang ngeselin gitu. Entah itu di jalan atau sesuatu yang terjadi di tempat kerja. Atau ada orang yang ngeselin dan gue rasa ‘aduh, harus ya gue tinggal di sini?’. Tapi gue harus menyadari kalau gue memang tinggal di sini. 

Judul album kamu berdasarkan ekspresi kamu sendiri. Jadi gimana kamu memandang diri kamu secara pribadi? 

Gue apa adanya aja lah. Gue ngga bisa banyak bicara tentang diri gue. Ya, gue gini-gini aja. Mungkin lebih baik kalau orang lain menjelaskan gue gimana. Tapi gue ngga bisa memberi label kepada diri gue sendiri. Gue rasa gue kayak ‘I’m just like this? Not that bad?’

Beri kita lirik lagu yang selalu melekat denganmu.

Blood Orange, It is What it Is. Cuma lirik itu karena memang apa adanya. Gue rasa itulah yang bikin gue melekat, terimalah bahwa ya ini apa adanya, harus menerima kenyataan. 

Hal apa yang paling menarik dari kamu yang kita tidak pernah ketahui?

Gue pernah main sebagai peri di old all-boy school  ketika gue tinggal di Afrika Selatan karena mereka membutuhkan pemeran tambahan sebagai peri. 

Seperti apa in the daily life of Sasan Fai?

Breakfast and coffee. Gue akan review musik di pagi hari. Gue review hal-hal yang gue lakukan kemarin, tapi pada akhirnya gue akan menyelesaikan apa yang gue bisa. Terus gue akan review pada hari berikutnya. Kadang gue ketemu orang atau pergi ke studio atau kerja bareng Jazlyn dengan fotografi atau sebagai styling assistant-nya. 

Apa arti ‘rumah’ bagi kamu?

Itu adalah sesuatu yang telah gue coba jawab sepanjang hidup gue. Karena gue berpindah-pindah sepanjang waktu. Gue pernah pindah ke Amerika Serikat, Selandia Baru, Afrika Selatan dan akhirnya pindah balik ke Jakarta pas umur 15 tahun. Awalnya gue rasa out of place karena gue kira Jakarta adalah rumah gue tapi ternyata ngga. Mungkin karena kelamaan di luar jadi adjusting-nya agak lama. Tapi pas gue udah mulai kuliah gue udah mulai terima kalau Jakarta itu rumah gue. 

Gue akhirnya sadar kalau rumah adalah sesuatu yang berarti bagi lo. Lo ngga bisa bound physically melainkan berurusan dengan orang yang lo kenal dan tahu. Gue ngga bisa bilang kalau nanti gue pergi ke tempat lain ini akan jadi rumah gue selalu, tapi lebih ke it’s where i bring home to.

Terus, gimana kamu bisa menggambarkan Jakarta?

Bersyukur kepada Jakarta is not that bad. Tapi Jakarta pada dasarnya adalah hellhole. Gue memang rasa seperti lubang neraka tapi ini memang Jakarta, it’s not that bad. Kurasa itu kesimpulannya; sial. 

Gue ngga tahu kenapa tapi tempat sial. It’s packed dan orang-orang berpikir lebih banyak tentang diri mereka sendiri. Banyak orang pergi ke Jakarta tapi kemudian mereka ingin seperti “orang Jakarta”. Mereka tidak ingin menjadi diri sendiri tapi selalu pikir tentang diri mereka sendiri. Sedangkan yang gue pikir dari mana lo pun berada, lo harus bawa apa pun yang bisa sebagai diri sendiri aja. Bukan kayak ‘oh kalau gue ke Jakarta, gue harus kayak orang Jakarta’, siapapun “orang Jakarta” itu gue ngga tahu dilabel sebagai apa. Seharusnya jadi diri lo sendiri aja sih. Malah nanti semua kota-kota selain Jakarta jadi kayak Jakarta juga ujung-ujungnya; people just thinking about themselves. 

Tempat favorit di Jakarta dan kenapa?

Well, sekarang udah ngga ada lagi sih. Jadi dulu ada kayak billboard main iklan random di bawah MRT Dukuh Atas di dekat terowongan. Jadi biasanya at the end of the day habis gue turun dari MRT, gue cuma duduk di sana dan menatap papan iklan sebelum gue balik dan memikirkan hal-hal. Itu akan menjadi tempat favorit gue untuk gue pikir.

Ketika menatap itu, apa yang biasanya kamu pikirin?

"Apa yang gue akan lakukan dengan hidup gue?" Itu pertanyaan nomor satu sih. 

Kita main Two Truths and a Lie ya. Kasih dua pernyataan yang jujur dan satu yang bohong tentang kamu.

Pernyataan pertama: Di waktu gue sendiri, gue suka diam-diam nari lagu Avril Lavigne.

Pernyataan kedua: Gue nonton Gilmore Girls.

Pernyataan ketiga: Gue banyak membaca literatur

--------

Foto diambil oleh Jazlyn Melody dan Shah Riar.