People

Perupa Keramik Dan Aktivitasnya Selama Self-Isolations

Ayu Larasati merupakan seorang seniman keramik yang inspiratif dan hasil karyanya biasa dijadikan sebagai alat kebutuhan di rumah sehari-hari seperti mangkuk, cangkir, dan perangkat makan lainnya. Proses pembuatan pottery tentunya membutuhkan ketelitian, kesabaran yang tinggi karena prosesnya cukup time consuming, dan yang paling penting adalah passion. Sama seperti perupa keramik pada umumnya, Ayu Larasati menunjukan ciri dan identitas karyanya yang mempunyai gaya dan karakter yang tersendiri.

Tim Redaksi Insitu berkesempatan untuk berbincang dengan seniman keramik yang inspiratif, Ayu Larasati, tentang menyiasati bisnisnya agar tetap berjalan di tengah pandemi, menjalankan aktivitas dengan normal dan produktif meskipun semuanya dilakukan di rumah saja, hingga hal-hal yang menginspirasi dalam pembuatan karya seninya.

I: Sebagai perupa keramik dan entrepreneur, bagaimana keadaan kamu di tengah krisis seperti ini?

AL: Cukup sulit dan menantang terutama bagi non-essential business seperti studio kami. Kami dulu memiliki tiga saluran pendapatan: penjualan online dan offline langsung, lokakarya, dan proyek grosir dengan sebagian besar klien Food and Beverages. Karena social-distancing telah terjadi, toko kami telah ditutup sementara, lokakarya dan proyek dengan klien Food and Beverages telah ditunda, jadi sekarang kami hanya mengandalkan pembelian melalui online saja. Terlebih lagi, tim kami telah bekerja dari rumah, dan hal ini cukup tidak ideal bagi kami, karena banyak hasil karya yang rusak selama pengangkutan atau pengiriman. Saya mengerjakan dan menjalankan studio sendiri dan hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Rasanya seperti masa lalu ketika saya baru mulai terjun ke dunia seni keramik, tetapi secara keseluruhan situasinya sangat membuat frustasi dengan keadaan seperti ini. One good news, saya melihat peningkatan yang stabil dalam pembelian melalui online untuk peralatan rumah tangga seperti keramik. Saya rasa karena orang-orang tinggal di rumah, mereka menghabiskan waktu untuk memasak sehingga mereka mencari peralatan makan untuk memperbarui peralatan makan mereka.

I: Bagaimana caranya agar tetap produktif dan nyaman selama lockdown ini?

AL: Rasanya rutinitas yang dijalankan sama saja seperti yang saya miliki sebelum self-isolation dimulai, sehingga saya tidak terlalu bingung dalam menjalankan aktivitas sehari-sehari. Karena studio saya ada di rumah, jadi rutinitas saya tidak banyak berubah. Tetapi karena tim saya tidak ada di sini, itu melelahkan bagi saya. Saya berusaha untuk bersikap baik kepada diri sendiri dan perlu diingat bahwa tidak apa-apa jika kamu tidak seproduktif hari-hari sebelum karantina dan mencoba untuk menikmati tugas-tugas kecil sehari-hari. Saya sekarang mulai merasakan kebahagiaan dalam memasak dan membuat kue, hal ini tidak akan pernah terjadi kalau bukan karena self-isolations.

I: Siapa dan apa yang menginspirasi kamu untuk menciptakan karya seni?

AL: Saya rasa proses penciptaan karya itu sendiri telah menjadi inspirasi bagi saya. Semakin banyak kamu bekerja dengan tanah liat, semakin kamu memahami bahwa itu adalah representasi kehidupan; bekerja dengan tanah liat seperti bekerja dengan sepotong alam - karakternya sangat mirip. Kamu perlu membangun praktik yang steady di sekitarnya untuk memahami perubahan dan sensitivitas untuk dapat membuat sesuatu yang benar-benar unik dan berbeda. Kamu tidak bisa memaksakan diri saat mengerjakan seni keramik. Selalu saja ada sesuatu yang baru ditemukan setiap hari. Tantangan-tantangan ini yang harus saya hadapi dan berusaha memahami karakter-karakter dari setiap tanah liat dan hal-hal tersebutlah yang membuat saya terus maju dan terinspirasi.