People

Tria Nuragustina

Siang hari itu, redaksi Insitu berkesempatan untuk bertemu dengan salah satu food journalist senior di Indonesia, Tria Nuragustina. Mengawali karir sebagai penulis kuliner di majalah Santap pada tahun 2002, Tria tetap teguh memegang prinsip-prinsip jurnalisme dalam penulisan kuliner hingga saat ini menjadi food project director di majalah Femina. Sembari menyeruput segelas kopi, cerita dan pengalamannya malang melintang di dunia jurnalisme kuliner dibagi dengan murah hati kepada kami. 

I: Bagaimana awalnya bisa berkarir di bidang jurnalistik, terutama jurnalisme kuliner yang jarang ditekuni orang?

T: Aku sebetulnya memiliki background pendidikan di perhotelan dan pariwisata. Di situ aku ingin jadi anak pastry, mimpi semua orang perhotelan dari dulu sampai sekarang itu untuk kerja di dapur hotel. Karena aku dulu mendapat kesempatan magang di Singapura, aku minta kerja di dapur. Tapi mereka pikir aku bisa komunikasi dengan orang, jadi aku ditempatkan di bagian PR sebuah hotel. Tentu sangat membosankan bagiku, karena aku ingin berurusan dengan dapur. Gue anak dapur banget sebetulnya.

Setelah itu, aku lanjut kuliah perhotelan lagi di Trisakti. Saat lulus, aku bekerja sebagai jurnalis di Majalah Santap. Majalah itu very niche, very ahead of the time. Food stylist paling bagus di Indonesia juga kerja di Santap. Majalah Santap pada saat itu sangat niche dan terlalu keren, akhirnya mati. Bikin majalah yang special interest kayak Santap itu mahal banget. Setelah itu, aku kerja di majalah Femina sebagai redaktur boga. Di situ aku menemukan kalau lulusan perhotelan ga cuma bisa kerja di dapur. Ada profesi food journalist yang belum terlalu umum, bisa wawancara chef, sekaligus menulis tentang hal-hal yang aku suka.

Saat ini, jabatanku adalah food project director di Femina. Semakin senior, lo harusnya semakin tahu DNA brand lo, dong. Karena itu, sekarang aku jadi konseptor untuk event untuk klien-klien di bidang kuliner. Misalnya, sebuah brand bekerja sama dengan Femina untuk meng-upgrade brand imagenya, itu kerjaanku untuk mengkonsep acara yang sesuai, dengan pembicara dan tema yang sesuai dengan tujuan brand tersebut. Selain itu, aku juga masih menulis di majalah. Menulis tetap selalu menjadi bagian dari pekerjaanku, karena untuk merancang event, aku harus selalu keep up dan networking dengan industri kuliner melalui tulisan.

I: Di tengah berubahnya landscape media yang sangat cepat dari print menjadi digital, bagaimana jurnalisme kuliner dapat beradaptasi?

T: Bagi sebuah media, penting untuk menekankan dulu DNA dan voice media itu. Lo harus keluarin suara lo. Ketika era itu berganti, DNA media itu masih terasa dan terdengar. Misalnya, dengan DNA yang sudah sangat kuat, Femina itu nggak selalu harus menjadi media cetak. Sekarang kami sudah punya website, sudah punya media sosial, pembaca kami tetap sesuai dengan orang-orang yang kami tuju--wanita yang mature. Sudut pandang media itu bisa dibawa ke mana pun, apapun produknya. Misalnya Femina mau bikin produk susu, mungkin kami akan bikin susu yang mendukung gaya hidup wanita karir yang bekerja. So people need to know your brand first, then along the way brand lo akan tetap hidup lewat berbagai diversifikasi. 

Tujuan media itu kan mengedukasi dan menginformasi, lo harus kasih sesuatu yang baru. Ketika suatu format mulai mati dan ditinggalkan, lo bisa langsung berubah ke format baru dengan cepat bermodalkan DNA brand yang sudah kuat. Lo mau ngapa-ngapain bisnis lo selama DNA-nya kuat, lo akan masih bisa jualan. Edukasi itu bisa kita sebarkan lewat berbagai platform.

I: Dengan adanya akses yang lebih mudah, misalnya lewat akun-akun makanan di media sosial, apakah berarti food journalism tak lagi menjadi monopoli masyarakat urban? Apakah ini artinya jurnalisme kuliner menjadi lebih terbuka dan accessible untuk audiens yang lebih luas?

T: Kedatangan bloggers di dunia food journalism, menurut gue, tidak membunuh satu sama lain. Kalau misalnya sebuah brand ingin pembahasan yang mendalam, mereka tetap akan datang ke media. Kalau blog atau Instagrammer, mereka sifatnya memviralkan, meningkatkan awareness. Mereka juga lebih menajamkan foto, alih-alih ulasan yang panjang dan mendalam. Percuma bikin caption panjang-panjang, di Instagram kan audiensnya mau cari foto yang keren, yang mouth-watering, bukan artikel. Jadi kurasa kami saling berkaitan--misalnya, pembaca media yang mature market kebanyakan tidak memegang media sosial, jadi kita lebih fokus pada aktivasi offline. Untuk aktivasi online, bisa menjadi lahannya para bloggers. Peran dan pendekatan kami sudah beda. 

I: Bisa diceritakan soal Jakarta Dessert Week yang sedang dikerjakan saat ini?

T: Jakarta Dessert Week bisa dibilang sebagai indie project yang kugagas bersama lima foodie lain. Kami bikin itu kayak restaurant week, mengajak orang Jakarta untuk berburu dessert. Tujuan kami adalah untuk menciptakan platform bagi para pastry chef. Kalau di Jakarta atau mungkin di Indonesia, orang kalau pergi ke restoran itu cuma makan main course-nya. Padahal seniman-senimannya adalah para pastry chef-nya, masa nggak ada yang pesan hasil karya mereka? Platform ini juga diberikan sebagai sarana bagi para pastry chef untuk berkreasi bikin dessert yang out-of the-box. Rangkaian acaranya ada demo, dining, bahkan bisa semeja makan bareng pastry chef. Kayak acara meet and greet sama pastry chef. Kami bikin stamp card juga yang bisa diisi setelah mengikuti rangkaian acara Jakarta Dessert Week ini. Acaranya intim dan eksklusif. 

Kami perlu bikin eksosistem yang kondusif untuk komunitas pastry chef ini. Kalau ekosistem sudah sehat, bisnis dan lain-lainnya akan mengikuti. We can create a movement.