Culture

Sebuah Utas Tentang Mengapa Kita Suka ‘Tea Spill’ Di Media Sosial

Oleh Sheila Bell

 

Pastinya kamu pernah ada dalam skenario dimana kamu sedang menelusuri timeline Twitter dan kemudian melihat sebuah thread atau kumpulan tweet bersambung dalam satu rantai yang sedang menceritakan seseorang telah diselingkuhi oleh mantan pacarnya. Skenario lain sering terjadi ketika melihat video di TikTok dimana seseorang mengatakan ‘kasih tahu pacar kamu toxic tanpa kasih tahu kalau pacar kamu toxic’. 

Fenomena ini sedang menjadi tren yang berlangsung akhir-akhir ini sehingga sudah lumrah untuk mengumbar pengalaman pribadi di media sosial; semacam jejak digital dalam diary online kamu. Beberapa cerita memang bisa menimbulkan respon positif seperti hal yang dapat menginspirasi dan memotivasi seseorang namun tea spilling juga bisa mengarah kepada respon negatif seperti hate speech, sindiran, atau bahkan menjadi perang virtual. 

Meskipun tea spilling tidak selalu mengenai selebriti, tidak dapat dipungkiri kalau beberapa ‘tumpahan teh’ dapat menghibur ketika kita mengulik kehidupan seseorang yang tidak kita kenal. Tim Insitu mengungkap alasan mengapa kita suka nge-spill kehidupan pribadi kita ke media sosial. 

Istilah Spill Tea

Spilling tea merupakan istilah yang sering digunakan oleh warganet Twitter dimana seseorang menceritakan sesuatu yang bersifat rahasia. Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, spilling tea bermakna sebagai ‘menumpahkan ‘teh’. Mengapa ‘tea’? Karena pelafalan kata ‘tea’ menyerupai pengucapan huruf T dalam bahasa Inggris dan huruf tersebut merupakan singkatan dari kata ‘truth’. 

Jargon ini sudah sangat umum digunakan sehari-hari sebagai bahasa gaul di zaman sekarang. Tidak hanya sekedar berbicara tentang gosip atau curhatan, terkadang beberapa orang akan menggunakan lontaran tersebut untuk nge-spill tip dan trik sesuatu. Misalnya, seseorang meng-upload selfie dengan wajahnya yang sangat bersih. Akhirnya netizen berkomentar ‘spill the skincare please!’ dengan arti untuk memberi tahu skincare apa yang dipakai. 

Secara teori, fenomena spilling tea adalah salah satu bentuk keterbukaan diri dalam  self-disclosure theory dimana kita mengungkapkan detail kepada seseorang, dari hal yang paling umum hingga sesuatu yang sifatnya personal. Namun, mengapa kita suka membagikan sesuatu yang bersifat pribadi ke dunia maya di saat semua orang bisa menyimak? What happened to the days dimana beberapa hal pribadi harusnya tidak usah diumbar? Bukankah seharusnya masalah-masalah pribadi hanya dibagikan kepada dengan orang yang terdekat dengan kita?

Fenomena Keterbukaan Diri ke Media Sosial

Dua riset berjudul 'Twitter Sebagai Media Mengungkapkan Diri Pada Kalangan Milenial' dan Self Disclosure Generasi Z Di Twitter memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama bercerita tentang kegiatan curhat keluh kesah kehidupan yang berujung timbulnya perasaan lega karena beban emosi dan pikiran sudah dilontarkan pada momen tersebut. Dikutip dari Tirto.id, fitur dalam platform media sosial tersebut juga sangat mendukung sehingga user mendapatkan validasi eksternal dengan cepat dalam bentuk rasa dukungan dari followers-nya. Fitur retweet, like dan komen mendapatkan interaksi instan dalam dunia virtual ini. Pada tingkat ekstrim, seseorang ingin menggapai popularitas atau mengumpulkan sebuah kubu demi menyerang balik kepada orang yang telah merugikan. 

Istilah dan tren menfess di Twitter 

Namun, tidak semua orang ingin curhat menggunakan akun pribadi sendiri dan ingin merahasiakan identitasnya. Salah satu sensasi ini terjadi melalui akun menfess dimana pengguna dapat mengirimkan cerita melalui direct message dalam bentuk bot otomatis. Mengutip dari Kreativv, menfess adalah singkatan dari mention confess dimana seseorang dapat membuat secret confession tanpa menyebut nama atau orang tertentu. 

Ketika anonimitas terjadi, seseorang memiliki ruang bebas untuk berekspresi mengenai masalah yang mereka alami. Bagi pihak yang mengirimkan curhatannya ke akun menfess ini, mereka dapat menghindari masalah yang lebih besar seperti mendapatkan serangan atau perdebatan online tanpa memberi tahu identitas diri. Bahkan, users lain bisa memberikan dukungan dan mencari solusi atas masalah mereka. 

The Good, The Bad and The Ugly Truth

Hal baik yang terasa setelah meluapkan beban emosional dan pikiran ke media sosial adalah timbulnya perasaan lega sejenak seperti beban yang terangkat dari bahu. Bagi seseorang yang pandai menyimak, curhatan orang lain bisa menjadi sebuah pembelajaran hidup dan bentuk simpati terhadap orang yang bercerita. Tindakan ini dapat meningkatkan pemikiran kritis apalagi jika kisah tersebut merugikan orang lain seperti pelecehan, pembunuhan, pencurian dan lain-lain. Sangat mudah untuk melacak dan melaporkan ke pihak yang dapat membantu. 

On a negative note, karena platform media sosial tidak memiliki batasan tentang cerita yang layak untuk dibagikan, beberapa curhatan bisa menyesatkan atau membuat skenario palsu hanya untuk mendapatkan popularitas dan validasi sendiri tanpa mengetahui cerita lengkap dari kedua belah pihak. Sehingga, orang bisa dengan mudah terhasut dengan cerita tersebut dan membawakan perasaan amarah yang menggebu-gebu. Ketika ini terjadi, cyberbullying ikut berperan sebagai ugly truth dalam tea-spilling di media sosial. 

Membaca curhatan orang yang tidak kita kenal dalam media sosial kadang menjadi sebuah hiburan, seperti mengetahui gosip terbaru dari seorang artis. Fenomena ini juga menjadi salah satu bentuk keterbukaan diri yang dapat menimbulkan perasaan lega sekaligus mendapatkan validasi eksternal dari orang lain. Meskipun seru dan terkadang bisa menjadi medium untuk mencari pembelaan diri, alangkah baiknya untuk kita selalu bijak dalam ber-curhat ataupun mendengarkan curhat seseorang. Ingat, selalu ada dua sisi dari sebuah cerita.