People

At Home: Rama Dauhan

Oleh Sheila Bell

 

Mendekorasi ruang berdampak kepada keadaan pikiran dibawah alam sadar. Sehingga, beberapa aspek dalam ruangan tersebut dapat menyentuh percikan kepribadian seorang individu. Psikologi ruang ini dapat direpresentasikan dalam tempat tinggal Rama Dauhan yang memberikan nuansa yang hangat dan hidup dari berbagai macam pernak-pernik yang dia miliki. Tim Insitu berkesempatan untuk mengunjungi dan mendapatkan tur eksklusif dalam kediamannya. 

 

Ruang Tengah

Saat kami memasuki ruang tamunya, ada perasaan dimana semua furniture menyambut kami dengan pelukan hangat. Dengan banyaknya pola dan warna eksotis yang menghiasi ruangan, sebagian besar harta bendanya berbicara dalam berbagai macam bahasa. Ornamen otentik yang menggantung di langit-langit atau jendela dari berbagai negara, kumpulan pernak-pernik yang menandai sebagai cinderamata, permadani bohemian yang serasi dengan sofa krem yang nyaman, gambar dan lukisan di dinding dari teman-teman Rama menerangi ruang tamunya sehingga menciptakan ruangan yang memiliki jiwanya sendiri.

 

Ruang Makan dan Dapur

Ruangan semi outdoor dengan jendela kaca yang dicat bunga-bunga, rak dapur yang memberikan nuansa rustic dan dedaunan yang digantung dari langit-langit menjadi tempat yang sangat nyaman untuk menyantap hidangan favorit. Pandangan kami pun dihadapkan kepada taman yang dikelilingi dengan tanaman-tanaman menghidupkan seisi ruangan. Salah satu yang menjadi sorotan bagi kami adalah kompor Electrolux dari era 70-an yang memiliki perpaduan warna kuning antik dan baby blue, memberikan kesan vintage nan elegan. 

 

Kamar Tidur 

Memasuki kamar tidur Rama yang diawali dengan tirai pintu berbunga-bunga membawa karakter positif pada tempat perlindungan Rama sendiri. Perpaduan dinding abu-abu dan putih yang sengaja di-washed off, cermin besar dengan berbagai macam kata yang sangat menginspirasi, bendera doa legendaris dari Tibet yang digantung di dindingnya tepat di atas tempat tidur, dan lebih banyak warna dari berbagai perabotan rumah menghidupkan rutinitas pagi, siang, dan malam Rama yang penuh dengan hal-hal positif.

 

Kamar Mandi

Menariknya, setelah Rama pulang dari liburannya ke India, Rama akhirnya ingin merenovasi kamar mandinya yang terinspirasi dari apa yang dia lihat pada saat berpergian ke negara tersebut. Kamar mandi yang dihiasi dengan ubin merah jambu pada dindingnya, gantungan shower perunggu yang sangat ciamik, dan dekorasi karangan bunga seolah-seolah mengingatkan kami pada sebuah adegan dari film Wes Anderson. 

 

Setelah menyantap comfort food di ruang makan yang sangat bernyawa dan welcoming, Rama juga membagikan beberapa aktivitas yang ia lakukan selama berada di rumah, inspirasi dari desain interiornya, dan tips agar bisa lebih merasa nyaman di rumah. 

 

Sheila (S): Kira-kira bagaimana keseharian Rama dimulai dari bangun tidur setiap harinya?

Rama (R): Gue tuh morning person, jadi bangun selalu pagi. Ini nggak rutin banget tapi sering banget first things first meditasi sekitar 15-20 menit. Habis itu mungkin ngopi, ngerokok, dan melakukan kegiatan lainnya. Tergantung juga nih, ada hari-hari yang gue nggak olahraga, ada hari-hari yang gue langsung kerja. Gue kerja biasanya sampai jam 6. Kalau paginya, gue nggak olahraga, gue biasanya olahraga di sore hari. Setelah itu, gue nonton, makan malam, telfonan dengan teman, dan bisa langsung tidur. 

 

S: Apa kegiatan yang sering dilakukan saat akhir pekan di rumah?

R: Kalau weekend, gue beberes rumah lebih ekstrim. Gue tuh tipenya orang yang awalnya cuma niat untuk motongin daun-daun yang udah kuning aja, akhirnya bisa jadi beresin semuanya. Gue juga suka masak atau cuma tidur-tiduran, me time, nonton, browsing segala macam, baca buku atau berkebun.

 

Kalau waktunya lagi tepat gue sering ngobrol sama nyokap, karena selama pandemi gue jarang terima orang. Dulu sebelum pandemi, temen ada yang dateng dan dinner atau sekedar minum-minum. Tapi sejak pandemi, kegiatan ini jadi hampir nggak pernah dilakukan. 

 

S: Sebutkan tiga kata yang mendeskripsikan rumah atau tempat tinggal bagi Rama.

R: Bersih, eklektik, dan campur aduk. Gue tuh hoarder, jadi barang-barang printilan itu banyak banget. Tapi, gue juga alergi debu. Jadi, itu dia yang bikin rumah gue harus bersih. Kalau lagi ada asisten rumah tangga, dia minta gue bantu untuk membersihkan barang-barang gue. Tapi kalau nggak, gue biasanya bersihin sendiri. Barang-barang itu nyimpen debu dari yang kain atau printilan kecil dimana-mana, kalau nggak dibersihin akan parah banget. 

 

S: Apakah ada inspirasi khusus ketika Rama membangun atau mendekor rumah?

R: Gue punya space ini dari umur 21 tahun dan kalau dilihat dari barang-barang yang dikumpulkan ini, banyak banget yang udah gak sepadan dengan usia. Biasanya kan orang sukanya yang minimalis, tapi kalau gue emang suka hal yang eklektik dan campur aduk. 

 

Karena space ini gak terlalu besar dan gue seneng banget ngeliatin apartemen ala Prancis atau Belanda yang kecil-kecil tapi nyaman, makanya gue terinspirasi untuk tetap bisa memanfaatkan ruang yang kecil dengan barang-barang yang padat tapi masih kelihatan nyaman. 

 

Gue itu suka ngumpulin segala macam barang kalau habis liburan. Pasti ada aja yang dibeli untuk rumah, nggak melulu fashion items atau makanan seperti kopi atau coklat. Sebenernya, rumah ini bisa sedikit bercerita kalau gue udah pernah travelling ke berbagai tempat. Selera gue juga agak vintage, jadi nuansa rumah ini kayak rumah nenek banget. Bukan rumah masa kini sama sekali. 

 

S: Dari semua perabotan yang ada di rumah Rama, manakah yang mempunyai cerita spesial atau kenangan tertentu?

R: Semuanya punya cerita, semuanya punya kenangan. Palingan yang nggak ada soul-nya tuh dispenser atau kulkas. Stove-nya juga merek Electrolux dari tahun 70-an yang diberikan nyokap pas dia pergi ke Amerika dan dibawa pulang ke Indonesia. Perabotan di rumah ini juga banyak yang hadir dari pemberian orang, jadi memang sudah bercerita dengan sendirinya.

 

Gorden di kamar kalau lagi ditutup itu kayak gorden anak-anak karena ada gambar rumah-rumah kecil. Itu adalah sablonan yang gue bikin pas gue kerja di XSML. Waktu itu gue punya kain putih yang gue minta tukang sablon untuk dijadikan gorden. Yang tadinya dari baju pun berubah fungsi jadi gorden. 

 

Mungkin hal-hal seperti ini yang bikin rumah gue terasa soulful karena hidup dan hangat. 

 

S: Sudah setahun lebih kita semua “dirumahkan” karena pandemi. Menurut Rama sendiri, apakah Rama termasuk kategori individu yang bisa betah di rumah? Apakah ada tips khusus supaya kita bisa betah berdiam di dalam rumah?

R: Betah banget di rumah. Tipsnya adalah gue memang bikin rumah gue itu seperti yang gue suka aja sih jadi gue menikmati tiap sudutnya. Kalau dibikinin sama orang atau gue beli, misalnya satu set dari suatu brand gue nggak bakalan suka. Dari kehidupan itu gue bukan tipe orang yang mengikuti tren. Gue lebih kepada stay true aja sama diri sendiri, gue sukanya apa ya udah itu aja. Gue nggak terpengaruh juga sama orang-orang yang punya hal apa gitu di rumahnya.