People

Nina Nikicio: Semuanya Sudah Kumaafkan, Tapi Diri Sendiri?

Oleh: Ian Hugen

Memaafkan adalah sebuah perjalanan panjang dengan takaran dan tempo yang berbeda-beda bagi setiap pribadi. Sebenarnya definisi memaafkan itu sendiri cukup abstrak dan tidak ada yang konkrit. Namun, menurut Nina Nikicio, memaafkan adalah sebuah ‘titik’ dimana kita sudah berhasil mengikhlaskan dan melepaskan. Saat kita sudah tidak lagi triggered akan suatu hal, tidak mengelak pada kenyataan, dan akhirnya  mau mencoba memahami bahwa sesuatu yang telah terjadi memang sudah begitu adanya. It is what it is, and it was what it was. 

Kita semua paham bahwa menyimpan amarah dalam hati benar-benar memberatkan diri. Bagaikan memikul sesuatu yang berwujud ilusi tapi terasa begitu berat setiap harinya dan satu-satunya jalan keluar yang ada adalah memaafkan itu sendiri. Namun, pernahkah terbesit di pikiran kalian bagaimana kalau amarah yang selama ini dipikul tertuju bukan kepada orang lain, melainkan internal yaitu kepada diri sendiri. Sanggupkah kamu memaafkan diri kamu sendiri? 

Sebagai single mom dengan dua anak yang berprofesi sebagai health coach dan content creator dengan bahasan health journey, menurut Nina penting untuk memaafkan diri sendiri karena dengan itu kita mengizinkan diri kita untuk bertumbuh. “By that, we allow ourselves to grow dan tidak lagi terbebani dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu,” tuturnya. Selain itu, memaafkan diri sendiri adalah pintu awal dari proses penerimaan diri. Ini adalah dua hal yang berkelanjutan. Nina mengaku hari-harinya terasa jauh lebih ringan setelah berhasil merelakan beberapa hal yang bergejolak pada masa lalunya. 

Langkah awal untuk memaafkan diri sendiri sebenarnya cukup sederhana namun sangat menantang yaitu you have to allow yourself to feel. Sepanjang perjalanan Nina menggeluti profesi barunya sebagai seorang health coach, Nina bertemu dengan begitu banyak klien yang menurutnya sangat keras terhadap diri mereka sendiri. Bahkan, cukup banyak klien Nina yang tidak mengizinkan dirinya sendiri untuk merasakan apa kata suara hati. Mereka kerap menyangkal emosi dan perasaan hanya demi punya persepsi bahwa feelings are just for the weak. Bayangkan, antara diri sendiri saja sulit untuk menjadi vulnerable dan apa adanya, lalu bagaimana bisa memaafkan diri jikalau inti permasalahannya saja tidak mau diakui? 

Selanjutnya yang perlu dipersiapkan selama proses memaafkan adalah keberanian, kesabaran, dan rasa percaya terhadap diri sendiri. Mengakui hal-hal yang perlu diikhlaskan tentu butuh keberanian ekstra. Percayalah, semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mungkin hari ini berhasil, besok akan jatuh lagi. Lalu, lusa baru bisa berhasil lagi. Akan tetapi, selama diri mau diajak untuk bekerjasama, seharusnya all will be fine one day. Setiap orang pun punya metode nya masing-masing. Ada yang memilih pergi ke therapist, ada yang akhirnya memutuskan rajin berolahraga, ada yang belajar meditasi, ada pun yang akhirnya rajin mengkonsumsi sayur dan buah-buahan. Maka dari itu, hanya diri sendirilah yang paling tahu langkah awal dan treatment apa yang terbaik untuk memulai perjalanan ini. Karena setiap orang punya journey yang berbeda-beda, tentunya timeline-nya pun tak sama. Ada yang cepat, ada yang lambat. Tapi proses itulah sendiri yang nantinya akan paling berkesan. Ingat, jangan memaksakan diri untuk terlalu terburu-buru, just enjoy the process and let your intuition leads you, because forgiveness takes time

Perbincangan semakin hangat bersama Nina saat tim Insitu menanyakan hal-hal yang paling ia syukuri setelah memutuskan untuk memaafkan diri sendiri. Diawali dengan tawa yang manis, Nina mengakui jarang terbesit akan pertanyaan ini. Setelah beberapa waktu merefleksikan perjalanannya, Nina jauh lebih berenergi secara fisik maupun mental. Nina akhirnya paham makna ‘fulfilled’ yang sesungguhnya. Sebelum berprofesi sebagai seorang holistic health coach, Nina cukup dikenal oleh masyarakat luas khususnya di industri fashion sebagai Creative Director label NIKICIO. Menjadi salah satu pioneer local brand selama kurang lebih 11 tahun, tentunya ada begitu banyak pencapaian yang diraih. Tapi semua tuaian itu tidak pernah membuatnya merasa cukup dan puas. Nina selalu merasa diri kurang dan kerap membandingkan dirinya dengan orang lain. Tapi setelah melalui beberapa hal yang akhirnya mengantarnya ke titik hari ini, Nina akhirnya sadar akan apa arti ‘bersyukur’, bahkan di saat ia sudah melepaskan semua jabatan, materi, dan profesi lamanya yang begitu penuh akan prestige.  Lucunya, justru disaat ia menanggalkan itu semua dan belajar untuk memaafkan dirinya, ia akhirnya baru menemukan arti ‘berbahagia’ itu sendiri. Tapi Nina sama sekali tidak pernah menyesali gaya hidup dan pilihannya yang lalu, juga orang-orang yang ia temui di masa lalu. Nina bersyukur karena dengan segala sesuatu yang terjadi kemarin, Nina belajar banyak dan ada hari ini. “It’s never about others’ validation, it’s just between you becoming the best version of yourself. To meet your calling and become helpful for others,” tegas Nina. 

Turning point yang akhirnya menyadarkan Nina untuk berubah dan memutuskan untuk memaafkan dirinya adalah momen pasca perceraiannya. Melalui sebuah perdebatan hebat yang memicu anxiety attack, saat itu Nina berpikir tidak lagi mau merasakan semua hal ini dan lebih baik mati. “The pain that I felt through my chest and palm is so painful that I don’t want to feel these feelings anymore. I just wanna die,” kata Nina. Tapi ia sadar, anak-anaknya Lizy dan James membutuhkannya. Perkataan ibunya pun terngiang ketika ia berkata, “Anak-anakmu hanya punya kamu sebagai seorang ibu. You have to get up because they only have you as their mother. Kalau bukan kamu, lalu siapa lagi?”. She then opened her eyes and saw her painful palm, “I have to get up, this is it, my kids deserve a better mother,” ceritanya dengan tatapan penuh makna. Dan itulah awal dari perjalanan penerimaan diri seorang Nina Karina Nikicio.

Tapi bagaikan sebuah garis yang terbentang panjang, jika ditanya sudah di titik manakah dirinya sekarang dalam proses memaafkan diri sendiri, Nina merasa dirinya masih ada di tahapan harus belajar lebih banyak lagi. Dia pun berharap akan selalu berada di fase itu; beginner's mindset. Karena dengan demikian, kita akan selalu menjadi rendah hati dan terus mau belajar. Bukankah mengenal diri sendiri memang adalah proses pembelajaran seumur hidup?

Sebagai penutup, Nina sempat bercerita bahwa anak-anaknya menjadi alasan utama ia akhirnya mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri. Karena kedua anaknya, ia akhirnya bertemu dengan versi dirinya yang baru. Tim INSITU pun menanyakan pertanyaan penutup yaitu, “Seandainya anak-anakmu suatu hari kelak membaca artikel ini, di saat mereka sudah paham bahwa karena merekalah ibunya bertahan dan akhirnya bisa memaafkan diri sendiri, kira-kira apa yang ingin kamu sampaikan kepada Lizy dan James?”. Nina berhening sejenak dan pelan-pelan mengatakan, “I’m sorry that I made decisions that I know might cause you pain and might hurt you. But I hope you know that when I made the decision, I made the best decision based on what I know. And I’m trying my best every single day to become the best version of myself, since that day, to grow, help and love you as much as I could. I hope that you can forgive me for the decision that I made. Even until now, I still try my best to forgive myself for that.”